Review Smartphone

Vivo V9, Apa Bagusnya Smartphone Rp4 Juta?

Cahyandaru Kuncorojati    •    Minggu, 13 May 2018 09:42 WIB
vivoreview gadget
Vivo V9, Apa Bagusnya Smartphone Rp4 Juta?
Vivo V9.

Jakarta: Vivo V9 beberapa waktu lalu diluncurkan di beberapa stasiun televisi nasional. Itu tidak salah karena jadi strategi efektif agar semua orang mengenal smartphone tersebut. Meskipun begitu, banyak juga pihak yang buat meme menyindirnya karena harga yang dianggap kemahalan.

Mereka yang mengeluh karena dengan spesifikasi yang dibawa Vivo V9 ke Indonesia harga tersebut bisa digunakan untuk memiliki smartphone lain yang spesifikasinya jauh lebih baik. Oleh sebab itu Medcom.id penasaran, seperti apa smartphone dengan harga Rp4 juta yang dibilang oleh banyak pihak kemahalan?

 

Desain

Vivo patut berbangga. Ini adalah smartphone Android yang pertama hadir dengan desain poni di Indonesia. Ini menjadi obat sakit hati konsumen yang belum bisa memiliki iPhone X.

Poni tersebut sangat jelas terlihat karena wajah Vivo V9 menggunakan layar LCD IPS berukuran 6,3 inci rasio 19:9 dengan resolusi Full HD+, sehingga Anda tidak akan menemukan tombol navigasi di bagian bawah layar. Layarnya harus diakui cukup bagus dan cerah serta lega untuk menonton atau bermain game.



Beda cerita saat kami memandangi dengan seksama desain bodi belakangnya, Vivo V9 disebut menggunakan material polikarbonat atau yang mungkin bagi mereka yang sudah menggenggamnya akan menyebutnya material plastik.

Smartphone yang kami uji memiliki warna Black & Gold, pemilihan material plastik dengan warna hitam mengkilap serta aksen warna emas menurut kami gagal menampilkan kesan smartphone premium dengan harga rilis Rp4 juta.

Aksen warna emas ditemukan pada logo Vivo serta tepi bagian dalam pemindai sidik jarinya. Lain lagi dengan tepian bingkai kamera ganda di belakangnya, warna emasnya yang seolah mengesankan material metal. Terlihat sekali Vivo V9 memaksa menampilkan kesan premium.



Beruntung smartphone ini masih tergolong nyaman digenggaman. Ketebalannya hanya 7,9mm dan menggunakan material plastik sehingga cukup ringan. Namun, berhubung material bagian belakangnya yang hadir dengan permukaan licin, sebaiknya Anda menggunakan jelly case yang disediakan dalam paket penjualan.

Pada sisi-sisinya, terdapat tombol yang umum ditemukan, yakni tombol daya dan volume serta lubang audio jack dan slot kartu SIM. Bagi Anda yang enggan menggunakan model slot hybrid, Vivo V9 menyediakan dua slot kartu SIM yang terpisah dari slot kartu memori MicroSD.

 

Software dan Antarmuka

Vivo V9 semakin melengkapi anggapan bahwa smartphone ini mengidolakan iPhone. Selain poni, Vivo V9 juga masih menggunakan antarmuka FunTouch OS 4.0 berbasis Androis 8.0 Oreo yang berjalan di dalamnya.

Antarmuka ini akan menyajikan halaman notifikasi apabila Anda menyapukan jari dari atas layar ke bawah. Untuk melihat opsi pintas pengaturan, Anda cukup menyapukan jari dari bagian bawah layar ke atas, seperti menggunakan iPhone.



Vivo V9 cukup beruntung karena memiliki fitur yang populer dan agak jarang ditemukan di banyak smartphone. Misalnya fitur Game Mode yang akan mencegah notifikasi panggilan serta pesan yang masuk mengganggu bermain game saat diaktifkan.

Hal ini sebenarnya juga mirip dengan fitur satu yang ditawarkan yaitu Motorbike Mode, yang menolak panggilan masuk serta memberikan balasan otomatis pada SMS yang masuk.

Fitur keamanan Vivo V9 sebetulnya tergolong umum, di antaranya pemindai sidik jari serta face unlock yang kinerjanya cukup cepat, tapi akan membutuhkan waktu sedikit untuk beroperasi saat Anda berada di kondisi cahaya yang minim.

 

Performa dan Baterai

Hal yang membuat beberapa konsumen di Indonesia kecewa terhadap Vivo V9 adalah dapur pacunya, persisnya prosesor yang digunakan untuk versi Indonesia. Ada penurunan kelas dari Snapdragon 626 menjadi Snapdragon 450.

Perubahan ini tergolong cukup drastis, meskipun Snapdragon 450 sebetulnya hadir sebagai generasi prosesor yang lebih baru dari pada Snapdragon 626. Performanya tidak buruk, tapi merek lain membanderol smartphone dengan prosesor Snapdragon 450 di bawah harga Rp4 juta.

Qualcomm Snapdragon 450 yang digunakan didukung RAM 4GB dan internal 64GB yang bisa ditingkatkan hingga 256GB. Dalam pengujian benchmark, harus diakui bahwa performa Vivo V9 bermodal Snapdragon 450 tidak buruk, dan memang akan lebih rendah dibandingkan prosesor Snapdragon seri di atasnya.

Kami melakukan benchmark pada Vivo V9 dan membandingkan hasilnya dengan smartphone lain yang harganya di bawah harga jual Vivo V9. Hasilnya, memang masih ada smartphone lain yang lebih baik dari Vivo V9. ASUS Zenfone Max Pro M1 yang dirilis menggunakan Snapdragon 636 saja bisa menjualnya dengan harga Rp2 juta.



Baterainya berkapasitas 3.260 mAh, dan dengan menggunakan prosesor Snapdragon 450 yang hitunganya tidak rakus konsumsi, Vivo V9 mampu bertahan hingga 10 jam saat benchmark menggunakan aplikasi PCMark Work 2.0. Untuk bermain game kami, mengujinya dengan game Final Fantasy XV Pocket yang memiliki konfigurasi grafis cukup detil.



Vivo V9 mampu memainkan game ini hanya dengan kualitas grafik Lite. Apabila ditingkatkan menjadi Normal atau High maka gambar permainan akan terliat tajam, tapi pergerakannya tidak halus. Saat pertama kali memainkan game PUBG Mobile, game langsung menyarankan game dimainkan dengan konfigurasi grafis tingkat Low berdasarkan konfigurasi paling optimal.



 

Kamera

Vivo V9 menawarkan kamera belakang ganda 13MP + 5MP dan kamera depan 24MP sebagai nilai jual utamanya. Apabila bukan seseorang yang sangat suka selfie, maka mungkin Anda tidak membutuhkan kemampuan ini.

Kamera ganda belakang Vivo mampu menghasilkan foto yang cukup tajam. Sayangnya, warna yang dihasilkan terlihat tidak kuat sehingga hasil foto seperti kehilangan warnanya alias tidak cerah.

Dalam kondisi foto malam hari dalam kondisi pencahayaan yang cukup foto yang dihasilkan justru tampak agak over exposure, misalnya saya mencoba memfoto tampak depan sebuah kafe yang justru menjadi sangat terang.







Saya harus menentukan sendiri titik fokusnya agar hasil foto tidak over exposure. Untuk hasil foto efek bokeh, saya akui hasilnya cukup rapi dan halus. Beralih ke hasil foto kamera depan, resolusi 24MP yang dimiliki tampak juga kurang mampu menghasilkan warna kurang tajam.

Dalam kondisi minim cahaya, kamera depannya tetap kurang mampu meredam noise yang muncul pada foto. Akibat kamera depannya tidak dibekali LED Flash, smartphone ini mengandalkan cahaya dari layarnya. Foto selfie yang dihasilkan tampak lebih terang di bagian tengah wajah yang langsung berhadapan dengan layar, kurang alami.







Kesimpulan

Melihat desainnya, Vivo V9 memang berhasil menyajikan layar yang lega termasuk tren poni layaknya iPhone X plus antarmuka iOS. Sayangnya, desain bagian belakang tidak jauh lebih baik dari smartphone harga Rp2 juta.

Bicara harga jualnya dan dengan membandingkan spesifikasi serta harga smartphone lain di pasar memang Vivo V9 agak kemahalan, dengan harga tersebut seharusnya konsumen bisa mendapatkan smartphone berspesifikasi menengah ke atas. Entah apa alasan Vivo menggunakan prosesor Snapdragon 450, padahal menggunakan prosesor Snapdragon 626 saja sudah sangat baik.

Alangkah wajar apabila dengan harga Rp4 juta Vivo V9 hadir dengan Snapdragon 626 plus nilai jual utamanya yakni kamera depan berkemampuan 24MP. Justru dengan menggunakan Snapdragon 450 konsumen seperti disuruh membeli kemampuan kameranya saja, ketimbang performa yang bisa jauh lebih baik dengan harga jual yang ditawarkan.
 
  Vivo V9
Layar  6,3 ini Full HD+ (2280 x 1080 piksel) rasio 19:9
Prosesor  Qualcomm Snapdragon 450
OS Android 8.1 Oreo
RAM  4GB
Memori Internal 64GB up to 256GB
Kamera  Belakang 13MP + 5MP, Depan 24MP
Baterai  3.260 mAh
Dimensi 154,81 x 75,03 x 7,89 mm
Bobot 150 gram
Harga Rp4 juta

 
6,8
Vivo V9
Plus
  • Layar lega resolusi Full HD+
  • Bodi tipis dan ringan
  • Baterai awet
Minus
  • Performa dan spesifikasi tidak sepadan dengan harga
  • Desain gagal terlihat mewah
  • Kamera belakang sering over exposure
  • Kemampuan kamera depan 24MP biasa saja

 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.