Alamanda Shantika

Stereotip, Tantangan Utama Wanita dalam Dunia Teknologi

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 06 Mar 2017 17:40 WIB
tech and life
Stereotip, Tantangan Utama Wanita dalam Dunia Teknologi
Alamanda Shantika Santoso.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pada akhir bulan lalu, Uber diterpa masalah. Salah satu mantan karyawannya menulis sebuah artikel yang membahas tentang pelecehan seksual yang terjadi di perusahaan transportasi berbasis aplikasi tersebut.

Mantan teknisi Uber, Susan Fowler menceritakan, ada banyak wanita yang mengalami pelecehan seksual di Uber dan ketika masalah ini dilaporkan, pihak HRD tidak mengacuhkannya. Saat ini, CEO Uber telah memerintahkan untuk diadakan penyelidikan untuk mengusut tuntas masalah tersebut.

Cerita Fowler hanyalah salah satu contoh masalah yang dihadapi oleh wanita yang berkecimpung di dunia teknologi. Masalah lainnya adalah sedikitnya perempuan yang bekerja di bidang teknologi. Alasannya? Karena industri teknologi sudah terlanjur dicap sebagai "bidangnya laki-laki."

Stereotip seperti ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tapi juga di Indonesia. Hal ini diakui oleh Alamanda Shantika Santoso, yang sempat bekerja di Go-Jek dan kini menjadi Program and Curriculum Advisor di Gerakan Nasional 1000 Startup Digital dan Chief Activist di FemaleDev.

"Ya memang sekarang masih aneh ya," ujar Alamanda saat ditanya tentang wanita yang bekerja di bidang teknologi. "Sebenarnya aku mau ngegebrak stereotip itu, karena sekarang itu sudah terbentuk stereotip perempuan itu kalau megang komputer atau mesin, kesannya maskulin banget."

Padahal, menurutnya, setelah dijalani, sebenarnya bekerja di bidang yang berkaitan dengan teknologi atau mesin adalah sesuatu yang "biasa saja." Dia merasa, stereotipe seperti inilah yang harus dihilangkan.

Bertahun-tahun berkecimpung di dunia teknologi, wanita yang akrab dengan sapaan Ala ini mengaku dia tidak pernah mendapatkan perlakuan yang berbeda. "Cuma banyak sih yang tanya, kenapa suka di teknologi. Bedanya cuma itu saja," katanya saat ditemui Metrotvnews.com di Snctry Health Bar. 



Alamanda merasa, adanya stereotip bahwa teknologi adalah bidang untuk pria justru akan menghambat langkah wanita. "Karena apa yang kita pikirkan di otak kita, itu yang akan jadi nyata," katanya. "Kalau kita bilang cewek itu bisa kok, pasti akhirnya ya cewek bisa."

Berkaca dari pengalamannya saat bekerja di Go-Jek, dia mengatakan bahwa wanita yang bekerja di bawah kepemimpinannya merasa ragu untuk menjadi seorang pemimpin. Misalnya, dia menjelaskan, ketika salah satu anak buahnya dipindahkan ke divisi yang lebih penting, dia malah justru merasa rendah diri.

"Dia tuh keburu nggak pede duluan," katanya. Menurutnya, salah satu alasannya adalah karena adanya pemikiran bahwa wanita identik sebagai sosok yang seharusnya hanya diam di rumah. Hal ini, jelasnya, menyebabkan wanita ragu untuk mengeluarkan pendapatnya.

Sebagai pemimpin, dia merasa sudah menjadi tugasnya untuk mendidik dan mendorong orang-orang yang dia pimpin agar bisa menjadi pemimpin yang sama sepertinya atau bahkan lebih baik lagi.

Inilah yang menyebabkan mengapa 5 bulan terakhir ketika dia bekerja di Go-Jek, dia memilih untuk menjadi pemimpin dari divisi yang disebut People's Journey - People and Culture, walau sebelumnya dia bekerja sebagai Vice President Product, yang bertanggung jawab atas apliaksi Go-Jek.



Lalu, sebagai wanita yang cukup sukses berkecimpung di dunia teknologi, apa yang Alamanda lakukan untuk membantu wanita lain?

FemaleDev adalah salah satu wadah yang Alamanda gunakan untuk membantu para perempuan. Saat ini, mereka sedang dalam tahap melakukan penelitian. Namun, Alamanda mengaku, dia tidak ingin menggunakan FemaleDev sebagai organisasi yang mendukung perempuan di bidang teknologi saja, tapi juga di semua bidang.

"Jadi memang ke female development," ujar Alamanda. "Tidak cuma menggiring perempuan programmer, tapi juga semua wanita yang perlu dibantu." Dia mencontohkan seorang ibu yang tidak lagi punya suami sebagai contoh. 

"Misalnya, ibu single parent yang sudah bercerai, harus membesarkan anak sendiri, itu kan perlu bantuan," ujarnya. Contoh lainnya adalah seorang ibu yang tidak bekerja. Menurutnya, mereka itu memiliki potensi untuk menjadi wiraswasta. 

"Mereka tuh potential entrepreneur, bisa jualan minuman, catering untuk yang bisa masak, jualan baju bayi," kata Alamanda. "Jiwa wirausahanya sudah ada. Tinggal diarahkan bagaimana cara untuk menjalankan bisnis yang benar."

Pada bulan April tahun lalu, Twitter menyebutkan bahwa mereka berencana meningkatkan jumlah pekerja wanita menjadi 35 persen di tahun 2016 naik satu persen dari tahun lalu. Sebagai perbandingan, ketika itu, Facebook memiliki jumlah pekerja wanita sebear 32 persen dan Google 30 persen. Ini merupakan salah satu masalah lain yang ada di industri teknologi.

Saat ditanya terkait presentase pemimpin berdasarkan gender di Go-Jek, Alamanda bercerita bahwa jumlah pemimpin perempuan sama banyak dengan jumlah pemimpin pria. "Kalau di Go-Jek, terakhir sih, leader juga banyak yang perempuan," kata Alamanda. "Misalnya product head, itu 50 persen laki-laki, 50 persen perempuan, jadi sama rata."

Alamanda yakin, kemampuan perempuan dan pria terkait programming sama saja. Dia bercerita, dia sempat membuat FGD bersama dengan Direktur Sesparlu, Odo Manhutu.

Ketika itu, dia diceritakan bahwa di Sesparlu, justru lebih banyak programmer perempuan. Kenapa? Karena mereka melakukan blind test. Dengan kata lain, saat dilakukan pengujian, gender orang yang diuji tidak diketahui oleh sang penguji.

"Mungkin sebenarnya, dari kita para leader juga ada stereotip," ujar Alamanda. Stereotip itu berupa keraguan akan kemampuan perempuan terkait dunia teknologi. Hal ini membuat pihak yang mempekerjakan tidak sepenuhnya 100 persen percaya dengan kemampuan sang pekerja, sementara sang pekerja perempuan sendiri menjadi tidak percaya diri dengan kemampuannya.

Lalu, bagaimana cara untuk mengembangkan rasa percaya diri itu? Menurut Alamanda, cara paling mudah adalah dengan menatap kaca dan meyakinkan diri sendiri bahwa Anda mampu melakukannya. Dia percaya, apa yang Anda yakini, itulah yang akan terjadi pada Anda. 


(MMI)

HP In-Ear Headset 150, Earphone Terjangkau Suara Jernih
Review Earphone

HP In-Ear Headset 150, Earphone Terjangkau Suara Jernih

4 days Ago

HP In-Ear Headset 150 menawarkan suara yang jernih dan desain yang nyaman dengan harga yang cuk…

BERITA LAINNYA
Video /