Peran Media Sosial dalam Kampanye Politik

Insaf Albert Tarigan    •    Jumat, 04 Jul 2014 18:15 WIB
jokowi capresfacebook
Peran Media Sosial dalam Kampanye Politik

Metrotvnews.com: Tatkala Barack Obama mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat pada tahun 2008, dia memanfaatkan secara penuh kekuatan internet, khususnya media sosial sebagai alat kampanye politik. Media dan akademisi di negara itu kemudian membanding-bandingkan penggunaan media sosial dalam kampanye Obama dengan peran televisi dalam kampanye Presiden John F. Kennedy.

Pada edisi 7 November 2008, New York Times menulis, " Salah satu dari banyak hal bahwa pemilihan Barack Obama sebagai presiden sama dengan John F. Kennedy adalah penggunaan medium baru yang akan mengubah politik selamanya. Untuk Kennedy, medium itu adalah televisi. Untuk Obama, mediumnya adalah Internet."

Selain memanfaatkan email dan website, Obama memang dikenal fokus menjadikan media sosial untuk memobilisasi relawan dan tentu saja menjangkau pemilih muda. Berbeda dengan rivalnya, John McCain yang hanya fokus beriklan di televisi, Obama menghabiskan jutaan dollar untuk beriklan di Facebook dan Google sekaligus menjaring sumbangan dari para pendukungnya melalui medium tersebut.

Sebagai informasi, paada tahun 2008, Obama memiliki 2 juta penggemar di Facebook, sedangkan McCain hanya 600 ribu. Obama juga unggul di media sosial utama lainnya, seperti YouTube, Twitter, Flickr dan lain sebagainya.

Ketika kembali mencalonkan diri untuk periode kedua pada tahun 2012, Obama masih menempuh cara yang sama. Dia menyampaikan informasi penting kepada pendukungnya melalui Facebook. Para pendukungnya juga bisa melihat informasi lain tentang Obama, seperti buku favorit, film favorit, hobi, atau acara televisi kesukaan.

Yang menarik dari media sosial adalah demografi penggunanya yang rata-rata berusia muda. Selain itu, tentu saja, popularitasnya di miliaran penduduk bumi. Hal ini pula yang membuat efektivitas iklan di media sosial kadang-kadang lebih efektif dibanding di televisi.

Dalam konteks pemilu AS, misalnya, konsultan politik Joe Trippi pernah menulis di New York Times bahwa, video Obama di YouTube lebih efektif dibanding iklan televisi, karena penonton memilih untuk menontonnya secara sukarela atau menerima rekomendasi dari teman. Hal ini berebda dengan televisi, iklan muncul sebagai pengganggu saat kita menonton acara kesukaan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kejelian Obama memanfaatkan media sosial ternyata juga diikuti kedua calon presiden, Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Saat artikel ini ditulis, jumlah penggemar Prabowo di Facebook mencapai 7.425.440 orang. Linimasa Facebook Prabowo banyak diisi fotonya ketika berkampanye keliling Indonesia, dan video berisi dukungan sejumlah tokoh dan orang-orang biasa.

 
Demikian juga dengan laman Facebook Jokowi yang disukai 3.311.213 orang, diisi dengan banyak foto dan video. Laman ini tampaknya dikelola secara rutin karena menampilkan informasi terbaru, seperti dukungan harian The Jakarta Post terhadap Jokowi yang baru disampaikan dalam editorial mereka pada hari ini.

Yang menarik dicermati, Jokowi melengkapi iklannya di media tradisional dengan memasang banner di Facebook sejak tanggal 4 Juni (seperti pada gambar paling atas). Iklan tersebut sangat menonjol karena dipasang di halaman log in Facebook, bukan iklan kecil di samping atau di dalam News Feed. Dengan kata lain, seluruh pengguna Facebook yang hendak log in ke dalam akunnya akan melihat iklan Jokowi.


Iklan tersebut dikombinasikan dengan video yang berisi ajakan Jokowi agar pengguna Facebook untuk mencoblos nomor 2 pada tanggal 9 Juli nanti, lengkap dengan hashtag #RamePilih2.

Jika dibandingkan, menu di laman Facebook Jokowi tampak sudah diubah dengan penambahan fitur Pasti Nyoblos dan Tanya Jokowi, sedangkan milik Prabowo masih standar.

Di jejaring sosial Twitter, persaingan kedua kandidat tak kalah sengit dan dibumbui saling intrik, ejek, dan fitnah. Perseteruan ini melibatkan manusia dan juga akun-akun robot yang sengaja dibuat untuk mendukung calon tertentu.

Tren yang juga berkembang di kedua kubu adalah berupaya sekeras mungkin agar kampanye mereka menjadi trending topic dunia. Hal ini, misalnya, bisa kita lihat ketika Komisi Pemilhan Umum menggelar debat antar calon presiden dan wakil presiden.


Sejak Kamis (3/7) kemarin, Twitter juga diramaikan oleh “pengakuan” banyak pesohor bahwa mereka #AkhirnyaMemilihJokowi. Sampai dengan 24 jam kemudian, hashtag tersebut masih masuk trending topic di Twitter. Wajar saja karena yang nge-tweet tentang hal itu adalah mereka yang puunya follower jutaan, seperti @sherinasisna, @afgansyah_reza.



Efektivitas kampanye di media sosial
Sejauh yang penulis tahu, belum ada peneliti Indonesia yang mengukur efektivitas kampanye di media sosial. Namun sebagai perbandingan, dalam Mass Communication and Society (Kushin and Yamamoto), disebutkan bahwa perhatian terhadap kampanye di media sosial di pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2008 cukup signifikan.

Dalam penelitian itu dikatakan, 27 persen orang dewasa di bawah 30 tahun mendapatkan materi kampanye dari jejaring sosial, sedangkan orang berumur 30 sampai 39 tahun hanya 4 persen, dan lebih dari 40 tahun hanya 1 persen. Hal ini, sekali lagi, menegaskan bahwa media sosial sangat tepat sebagai medium untuk membidik kawula muda.

Keterlibatan kawula muda dalam pembautan materi kampanye ini juga memunculkan nuansa lain berupa kampanye kreatif yang mengundang decak kagum, keren dan kadang juga jenaka. Simak saja video-video di bawah ini.









Melihat kecepatan internet Indonesia yang terus membaik, dan meluasnya adopsi smartphone hingga ke seluruh penjuru Tanah Air, bisa dipastikan peran media sosial dalam persaingan politik di Indonesia akan kian menguat. Bisa jadi, fenomena di tingkat nasional saat ini akan diduplikasi oleh elite-elite tingkat lokal.


(ABE)

Video /