Agate Studio

Game Lokal Harus Jadi Raja di Rumah Sekaligus Internasional

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 29 Jan 2019 20:13 WIB
gamestech and lifeAgate
Game Lokal Harus Jadi Raja di Rumah Sekaligus Internasional
Co-founder dan CMO Agate, Shieny Aprilia.

Jakarta: Industri game di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tumbuh subur. Bukan hanya sebagai pemain atau penikmat game buatan luar, industri game Tanah Air didorong untuk menjadi raja di rumahnya sendiri.

Rasanya hampir semua pelaku industri game di Indonesia menyadari hal itu. Indonesia digadang sebagai pasar game terbesar ke-17 di dunia, mengutip data Newzoo, dengan pendapatan industri ini bisa mencapai nilai USD1.084 miliar.

Faktanya, pangsa pasar tersebut masih dinikmati oleh game buatan luar. Tidak heran bahwa urgensi industri game lokal untuk menguasai pasar Indoensia sangat ingin digagas oleh Shieny Aprilia, perempuan yang menjadi Co-founder sekaligus Chief Marketing Officer Agate.

"Besar di Indonesia itu jadi modal utama studio game untuk bisa bersaing dengan game buatan luar negeri yang ada di Indonesia. Kalau ini sudah diperoleh maka baru ekspansi dengan karya yang juga lebih besar," tutur Shieny kepada Medcom.id.



Agate adalah salah satu studio developer game lokal yang berbasis di Bandung dan sudah menunjukkan eksistensinya di kancah industri game lokal. Berdiri sejak 2009, Agate sudah memiliki 150 talenta dengan karya lebih dari 250 game.

Mendengarkan profil perusahaan tersebut dari Shieny membuat saya terkejut. Perusahaan yang memasuki usia 10 tahun ini sudah menghasilkan karya yang begitu banyak. Namun, rasanya hanya terdengar di komunitas gamer lokal, belum publik atau gamer seluruh Indonesia.

Saya setuju bahwa kondisi tersebut bukan salah Agate. Menurut Shieny, industri game Indonesia memang baru mendapatkan sorotan pemerintah beberapa tahun belakangan dan sedikit telat dibandingkan di luar.



"Komunitas game di luar lebih dulu matang, jadi perusahaan game di sana sudah lebih dulu berkarya dan yang penting lebih dulu sekaligus lebih banyak jatuh bangun. Faktor lain adalah sumber daya manusia untuk industri game di Indonesia selama ini sulit," jelas Shieny.

Shieny menceritakan bahwa dulu mencari talenta untuk industri game sangat sulit apalagi mencari talenta yang berkaitan langsung dengan industri game. Sambil tertawa dia menceritakan bagaimana sarjana dari seni patung bahkan ilmu pertanian kini bergabung di Agate. Shieny mengaku sangat kagum.

"Artinya industri game sekarang sudah dilirik sebagai lapangan kerja yang bagus. Dahulu orang pasti akan bertanya pas ada yang baru berprofesi sebagai developer game, dikiranya hanya bermain game," ungkap Shieny.

Perkembangan industri game lokal yang semakin baik saat ini bagi Shieny tidak terlepas dari stigma bermain game yang tidka lagi negatif. Kalau talenta menjadi tantangan bagi industri game, Shieny menyanggah kalau karya industri game lokal kalah dari game luar.



"Misalnya, Agate kemarin sempat merilis game Valthirian Arc yang hadir di Nintendo Switch, PlayStation 4 dan PC. Game ini berhasil menduduki peringkat kedua kategori Best New Game pada layanan Steam di Inggiris dan Eropa setelah dirilis kurang dari 24 jam," tutur Shieny dengan bangga.

Fakta lain dari Shieny adalah game tersebut sudah berhasil break event point alias keuntungan penjualannya menutup modal pembuatan game selama 2,5 tahun, kurang dari satu bulan setelah dirilis.

Keuntungannya bahkan mencapai belasan miliar rupiah. Justu hal yang menarik kontribusi keuntungan tersebut berasal dari penjualan di internasional, bukan Indonesia.

"Di Indonesia pasar game mobile lebih populer, tapi Valthirian Arc bukan game genre mobile melainkan game konsol dan PC. Makanya game ini kita rilis ke pasar yang sesuai terlebih dahulu yaitu Eropa dan Amerika," jelas Shieny.

Meskipun laris manis di luar ketimbang dalam negeri, menurut Shieny hal ini tetap harus dilihat sebagai bukti bahwa karya industri game Indonesia berpeluang besar untuk tidak hanya menjadi raja di rumah sendiri juga di global. Hal ini harus menjadi motivasi bagi studio game atau pelaku industri game lokal.



Soal kompetisi antar studio game di Indonesia menurut Shieny kompetisinya sangat sehat bahkan tidak pas disebut kompetisi melainkan seperti komunitas, membangun industri game bersama dan berbagi opini membangun satu sama lain.

"Kalau kompetisi paling bersaing berebut talenta yang jumlahnya tetap masih terbatas hingga saat ini tapi dari segi karya kita tidak ada persaingan, mungkin pride masing-masing aja kalau karyanya sukses," tutur Shieny.

"Tapi gol utamanya masih membangun industri game lokal jauh lebih besar lagi, menguasai pasar di Indonesia dan bersama bisa go international. Kita saling dukung untuk sama-sama survive dari kompetisi dengan game buatan luar," imbuh Shieny.

Shieny mengibaratkan industri game Indonesia hampir serupa dengan industri perfilman di sini. Perlahan-lahan industri game lokal mulai bermunculan dan memiliki tempat sendiri di tengah game buatan luar negeri.

Shieny optimistis bahwa industri game lokal semakin besar dan di tahun 2019 dengan tren esport yang terus bergelora jadi kesempatan industri game untuk semakin populer, meski belum menjadi game yang dilombakan dalam esport.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.