Girls in Tech Indonesia

Dua Perempuan Menguak ‘Takdir’ Teknologi

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 23 Oct 2018 18:26 WIB
teknologihari perempuan internasionaltech and life
Dua Perempuan Menguak ‘Takdir’ Teknologi
Ollie dan Anantya.

Jakarta: Perkenalkan: Dayu Dara Permata  dan Anantya van Bronchorst. Dua perempuan Indonesia yang melawan pandangan umum yang menganggap teknologi adalah dunia pria.
 
Dayu Dara Permata, akrab dipanggil Dara, adalah perempuan yang berada di jajaran pimpinan Go-Jek, perusahaan pelopor ojek online. yang kini telah memiliki valuasi USD1 miliar (Rp15,2 triliun)
 
Sementara Anantya adalah pimpinan dan pendiri Think.web, sebuah agensi digital paling menonjol di negeri ini. Lebih dari sukses karir profesional mereka sendiri, Dara dan Anantya juga melakukan berbagai inisiatif untuk mendorong keterlibatan perempuan di dunia teknologi, melalui berbagai kursus dan program.
 
Berbagai program inisiatif itu berangkat dari keheranan mereka: kok begitu sedikit perempuan di profesi yang terkait teknologi?
 
Sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan jasa profesional global Accenture menyebutkan bahwa hanya 27 persen perempuan yang memilih studi bidang teknologi, karena menginginkan pekerjaan dengan pendapatan tinggi, sementara pria mencapai 40 persen.
 
Sementara itu, data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 2015 menyebutkan bahwa jumlah laki-laki yang bekerja di bidang teknik/teknologi mencapai 13 persen dan perempuan hanya 2,52 persen.
 
Anantya dan Dara lalu bergerak bersama kawan-kawan mereka yang sehaluan. 

Sejak tahun 2016, Anantya, bersama sahabatnya, Aulia 'Ollie' Halimatussadiah, mendirikan Girls in Tech Indonesia (GIT-ID), sebuah komunitas yang bertujuan menginspirasi kaum perempuan Indonesia untuk menggunakan teknologi lebih dalam dan tidak hanya sekadar menjadi sekedar pengguna.
 
Semua ini bermula dari keresahan Anantya tentang minimnya partisipasi perempuan dalam berbagai  konferensi di bidang teknologi yang ia ikuti. Padahal, ia yakin bidang ini adalah profesi yang sangat menjanjikan. Ternyata, Ollie, sahabatnya yang juga pendiri dan CEO Nulisbuku.com, juga memiliki keprihatinan yang sama.
 
Mereka pun putar otak.
 
“Setelah mengobrol tentang bagaimana membuat organisasi atau komunitas untuk menarik perempuan ke bidang teknologi, kami menemukan Girls in Tech Global, yang telah berdiri sejak Februari 2007 di Amerika Serikat,” kata Anantya kepada Medcom.id.
 
GIT ini memberikan berbagai program dan pelatihan berbagai disiplin teknologi bagi kaum perempuan, dan sudah berkembang di seluruh dunia, dengan membentuk berbagai cabang atau chapter
 
Nah, GIT sudah ada, program-program dan modulnya sudah siap tinggal diterapkan sesuai konteks wilayahnya. Jadi tidak mulai dari nol. Sesudah berunding dengan Ollie, kami memutuskan untuk membuka GIT cabang Indonesia. Jadilah GIT-ID,” papar Anantya.
 
Anatya menjelaskan, GIT menyasar kaum perempuan dari berbagaia segmen, khususnya pelajar/mahasiswa, pencari kerja, ibu, dan pebisnis. Mereka merancang pendekatan yang berbeda untuk target-target itu.
 
Untuk pelajar misalnya, jika ingin membuat mereka lebih serius di dunia teknologi dengan mengambil pendidikan formal, GIT akan melakukan pendekatan pada anak sekolah menengah.
 
"Cara pendekatan kami kombinasi, kami mengadakan petihan selama 3-4 bulan. Kalau untuk mahasiswa ada kelas workshop dari pukul 9 pagi hingga 5 sore, di sana kami membuka perspektif tentang bagaimana kerja di dunia digital, ada elemen apa saja," terang Anantya.

Selain itu, para peserta yang umumnya berjumlah 40-50 orang tersebut diajak bertemu dengan kaum perempuan yang sudah berkerja di bidang teknologi, seperti coder (pembuat program komputer) atau profesional di sektor startup melalui kunjungan ke kantor-kantor tertentu.
 
"Betapa pun," kata Anantya, "kami belum sampai tahap bekerja sama untuk menyediakan program magang bagi partisipan GIT-ID di perusahan-perusahaan tersebut."
 
Sementara itu, untuk pebisnis, GIT-ID menyasar mereka yang masih memiliki bisnis kecil berbagai bidang (kebanyakan di bidang fesyen, makanan, dan edukasi) dengan jumlah pekerja maksimal tiga orang. Konsep yang sama pun digunakan, yaitu workshop yang digabung dengan pembimbingan dan aktivitas bisnis.
 
Setelah berjalan selama lima tahun, kata pendiri lainnya, Ollie, GIT-ID direncanakan bisa merambah kota-kota besar lainnya.
 
“Sementara ini, partisipan di kota lain ikut serta melalui kelas online seperti KIT by GIT (Kelas IT oleh GIT),” kata Ollie.
 
“Selain itu, diharapkan nantinya akan ada program berkelanjutan, yang bisa berlangsung lebih dari tiga tahun misalnya, agar bisa memberikan dampak dan pertumbuhan jumlah perempuan di teknologi yang lebih terukur,” tambah Ollie.
 
"Program kita saat ini sudah memberi dampak yang besar, tapi kalau lebih lama durasinya akan lebih bagus," tambahnya.

Dara juga berusaha untuk mendorong wanita untuk mau masuk ke dunia teknologi, walau caranya agak berbeda. Bersama Sandhya Devanathan (CEO Facebook Singapura), Khailee Ng (CEO 500Startups), dan Florian Holm (CEO Lazada Indonesia), Dara mendirikan #wondertech, yang memiliki tujuan yang sama dengan GIT-ID, yaitu mendorong perempuan untuk masuk dunia teknologi.

Komunitas #wondertech sendiri baru diluncurkan secara resmi pada 20 Juli 2017. Komunitas yang baru berusia seumur jagung tersebut juga ingin memberdayakan perempuan agar bisa dan mau berkecimpung di dunia kerja yang berkaitan dengan dunia teknologi, hingga mencapai posisi puncak.
 
Ide #wondertech berasal dari Dara, Sandhya, Khailee, dan Florian. Suatu waktu keempat orang ini tampil sebagai pembicara di suatu acara pertemuan fintech tingkat Asia Tenggara. Dalam acara yang diikuti sekitar 500 orang itu, jumlah peserta perempuan ternyata kurang dari 20 orang.
 
"Cukup menyedihkan. Karena dari sisi pembicara waktu itu, ada keseimbangan antara perempuan  dan laki-laki, tapi jumlah peserta wanita tak sampai 5 persen. Dan kenyataan di industri ini pun demikian," ungkap Dara saat dihubungi Medcom.id.
 
Dara membahas masalah itu bersama tiga orang lainnya. Mereka pun berinisiatif untuk mencari tahu apa penyebab wanita enggan terjun ke dunia teknologi dan mencari solusi untuk mengatasinya.
 
Langkah pertama mereka adalah melakukan sebuah survei yang melibatkan sekitar 600 partisipan, baik secara online maupun offline, pada tahun 2017.
 
Hasil survei menunjukkan bahwa para perempuan itu membutuhkan wadah untuk mengembangkan soft skill dan hard skill. Mereka mengaku bahwa perusahaan cenderung menuntut para pekerja memiliki dua kemampuan tersebut dan terus mengembangkan diri, kata Dara.
 
Selain itu, para perempuan yang menjadi partisipan survei mengaku bahwa mereka ingin mendapatkan pembimbingan atau mentoring terkait cara menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan sosial.
 
Setelah itu, keempatnya lalu mendirikan #wondertech.
 
“Jadi idenya, #wondertech berniat membuat program kerja yang bertujuan membantu mengatasi masalah yang dialami para perempuan yang berkecimpung di bidang teknologi,” kata Dara.
 
"Kita berencana membuat beberapa kegiatan seperti seminar, virtual group, atau semacamnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut," tambah Dara.
 
Masalah Terbesar yang Dihadapi GIT-ID dan #wondertech
Baik GIT-ID maupun #wondertech mengaku bahwa tantangan terbesar dari komunitas yang mereka dirikan adalah mempertahankan keberlanjutan dari komunitas tersebut.
 
Dara menyadari bahwa saat ini para inisiator dan pengelola #wondertech memiliki pekerjaan profesional masing-masing, dan komunitas yang kelak diharap dapat menjadi yayasan tersebut merupakan kegiatan yang ditangani di sela-sela waktu luang.
 
Oleh karena itu, mereka berencana membentuk tim yang benar-benar bisa menjalankan komunitas tersebut secara penuh waktu. Masalah yang sama dihadapi GIT-ID.

"Membuat program lebih berkelanjutan juga tak mudah dari dari segi pendanaan. Intinya kami sedang berusaha agar tetap jalan, self-sustaining," ujar Ollie, dari GIT-ID yang mengungkapkan bahwa dalam setahun bisa dilakukan dua program pelatihan komunitasnya.
 
Salah satu solusi dari Anantya untuk mempertahankan program adalah dengan mempererat kolaborasi yang telah dibangun sejak awal.
 
"Selama ini kami bersandar pada kolaborasi dengan bebeapa pihak, jadi kami mencoba mengembangkan kerja sama agar program tetap berjalan menjadi lebih baik.
 
Pencapaian Dara dan Anantya
Dara dan Anantya adalah dua sosok yang menjungkir-balikkan pandangan yang mengidentikan teknologi semata dengan laki-laki.
 
Dayu Dara Permata, Vice President dari PT. GO-JEK Indonesia mulai bergabung dengan salah satu startup unicorn Indonesia itu sejak 2015. Ia diminta oleh pendiri GO-JEK, Nadiem Makarim untuk mengembangkan layanan di luar transportasi.
 
Ia pun berhasil mengembangkan beberapa layanan yang mempermudah keseharian yaitu Go-Life yang terdiri dari Go-Clean (jasa membersihkan ruangan), Go-Massage (jasa pemijatan), Go-Glam (jasa salon), dan Go-Tix (jasa pembelian tiket bioskop, konser, atau acara besar).
 
Dara juga kerap diminta sebagai pembicara dalam berbagai seminar atau workshop, baik untuk tingkat universitas maupun perusahaan. Sebuah organisasi juga menobatkannya sebagai salah satu dari delapan perempuan terdepan Indonesia di bidang teknologi.

Adapun Anantya Van Bronckhorst adalah co-founder dan co-CEO agensi digital Think.Web yang berdiri sejak tahun 2007 yang memperkerjakan sekitar 100 orang.
 
Memulai bisnis startup bersama tiga orang yang merupakan rekan kerja terdahulu bukanlah hal yang mudah, kata perempuan kelahiran 1979 tersebut.
 
"Senjata saya waktu itu hanya baca buku, belajar yang banyak, dan ngobrol sama banyak orang. Karena kita perlu perencanaan dan perhitungan yang matang saat menjalankan bisnis, meski kadang tak sesuai rencana," ujar Anantya.
 
Anantya juga menjadi komisaris di beberapa startup lain seperti YukCoba.in (trial platform), Talk Link (digital Public Relation), Inmotion (mobile and game developer), Digify (website developer), Wooz.in (online-offline integration), Trys (digital content management), dan beberapa proyek lain yang sedang dalam pengerjaan.
 
Sebagaimana Dara, Anantya juga akif sebagai pembicara dalam beberapa pertemuan bertema teknologi, di Indonesia maupun di forum-forum internasional.
 
Terkait perkembangan bisnis, ia mengaku bahwa Think.Web mulai mengalami pertumbuhan pesat berkat adanya media sosial. "Puncaknya pada 2010-2012, ketika makin banyak orang bermain media sosial."
 
Ia melihat, konsumsi konten masyarakat mulai berpindah medium, dari asalnya situs ke media sosial, meskipun konteks teks dan video yang disajikan masih sama. Semakin banyak orang tertarik, maka semakin kredibel medium yang digunakan.

"Bahkan, 50-60 persen medium primer kita saat ini adalah media sosial untuk komunikasi."
 
Apa Kata Pemerintah? 
Tren kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi memang terjadi di mana-mana, kata Miftahudin, Staf Khusus Kementrian Ketenagakerjaan RI.
 
"Dalam pelatihan kerja saat ini, kami melihat permintaan tenaga kerja TI meningkat," ujarnya saat ditemui Medcom.id.
 
Rencananya, katanya, Kemenaker akan mengembangkan tren pasar kerja yang cenderung ke bidang IT. "Karena sekarang ini BLK (Balai Latihan Kerja) gelombang ke-4 adalah teknologi, sebelumnya kan di manufaktur."
 
Masalahnya, BLK di bidang teknologi lebih banyak menarik minat pria. Apa yang yang dilakukan Anantya van Bronckhorst dan Aulia 'Ollie' Halimatussadiah dengan GIT-ID serta Dayu Dara Permata, Sandhya Devanathan, Khailee Ng, dan Florian Holm dengan #wondertech adalah prakarsa-prakarsa untuk mebuat terobosan baru, yang membuka jalan bagi perempuan untuk masuk dunia teknologi.
 
Mencoba mendobrak stigma bahwa perempuan tak cocok dengan teknologi dan bahwa teknologi adalah dunia pria, bukanlah hal yang mudah. Menurut Dara, pendiri #wondertech dan VP Go-Jek, ada beberapa faktor yang bermain di sini: yaitu internal, eksternal, dan lingkungan.
 
Faktor internal berasal dari perempuan yang dibebani dengan ketidakyakinan pada diri sendiri dan pandangan tentang kodrat.
 
"Penghalang terbesar untuk sukses adalah self-limiting belief, mereka tak percaya mereka bisa. Mereka ragu karena mereka tak punya role model, perempuan lain yang sukses di bidang ini," terang Dara.
 
Senada dengan itu, Dini Widiastuti selaku Executive Director dari koalisi delapan perusahaan yang mendorong kesetaraan gender Koalisi Pebisnis Indonesia Untuk Pemberdayaan Perempuan (Indonesian Business Coalition for Women Empowerment - IBCWE) juga menitik-beratkan faktor  role model itu. 
 
"Kalau ada role model, akan lebih banyak yang menginspirasi perempuan muda untuk mengambil jurusan di bidang teknologi," ujar Dini.


Dini Widiastuti.
 
Dalam pengamatan Dini, sejauh ini kebanyakan orang, termasuk perempuan, menggunakan teknologi hanya sekadarnya, misalnya untuk berkomunikasi atau hiburan.
 
"Kita masih belum punya budaya kuat untuk menggunakan teknologi sebagai sumber ilmu atau berbagi ide.” Ini yang harus diubah, katanya.
 
“Jadi harusnya, bagaimana Anda menggunakan teknologi, bukan bagaimana teknologi menggunakan Anda."
 
Dini memuji inisiatif seperti yang dilakukan Anantya dan Ollie dengan GIT-ID dan Dara beserta tiga kawannya dengan #wondertech, yang dipandangnya membuat teknologi lebih bisa dijangkau perempuan berbagai kalangan, juga menjangkau perempuan di kisaran usia yang semakin muda.
 
"Sekarang teknologi sudah semacam DNA untuk generasi milenial ke atas, jadi tak akan ada lagi hambatan untuk perempuan untuk masuk ke dunia ini," pungkas Dini. 


(ELL)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.