Yessie D. Yosetya

Resep Bekerja di Industri Teknologi: Belajar Tiada Henti

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 07 Aug 2017 19:20 WIB
xltech and life
Resep Bekerja di Industri Teknologi: Belajar Tiada Henti
Chief Service Management Officer XL Axiata, Yessie D. Yosetya.

Metrotvnews.com, Jakarta: Setiap tahun, Apple meluncurkan iPhone baru. Sementara itu, rival Apple, Samsung, justru meluncurkan 2 smartphone premium setiap tahunnya, yaitu jajaran Galaxy S dan Galaxy Note. Selain kedua lini tersebut, Samsung juga melakukan pembaruan dari lini kelas menengah dan kelas pemulanya. Ini menunjukkan betapa cepatnya teknologi berkembang. 

Perkembangan yang cepat ini tidak hanya terjadi di industri smartphone, tapi semua industri teknologi, termasuk telekomunikasi. Menurut Chief Service Management Officer XL Axiata, Yessie D. Yosetya, hal inilah yang justru menjadi tantangan terbesar yang dia hadapi ketika meniti karir dalam dunia teknologi. Dia merasa, gender tidak menghalanginya untuk berkuliah dan bekerja di bidang teknologi. 

Yessie bercerita, memang, saat duduk di bangku kuliah, perbandingan antara mahasiswa perempuan dan laki-laki cukup besar. "Dari satu angkatan, yang terdiri dari sekitar 150 orang, hanya 10 persen yang perempuan, sekitar 16 orang," ujar Yessie ketika ditemui di Grha XL. "Tapi, kalau dari kemampuannya, saya tidak melihat adanya perbedaan. Malah, di beberapa mata kuliah, kita lebih baik jika dibandingkan dengan rekan kami yang laki-laki."

Untuk menghadapi masalah berupa cepatnya perkembangan teknologi, Yessie hanya memiliki satu cara, yaitu terus belajar. "Harus terus up-to-date dengan berita dan teknologi yang baru. Karena begitu berhenti belajar, ya sudah, langsung habis," katanya. "Karena apa yang kita pelajari sekarang, belum tentu bisa kita pakai ke depan."

Lalu, bagaimana cara Yessie memperkaya ilmu?

"Banyak ya. Sumber untuk belajar itu, baca sudah pasti, bertemu dengan orang, menjalin hubungan," ujar Yessie. Menurutnya, dengan mendengarkan orang lain berbicara, mendengar pendapat dan pandangan mereka, kita bisa memperkaya pengetahuan dan memperluas cara pandang. "Makanya, diversifikasi atau keberagaman itu sangat penting."

Selain itu, dia juga selalu aktif dalam berbagai diskusi. Dalam sebuah diskusi, biasanya akan dibahas tentang isu/teknologi terbaru. "Misalnya, ada isu virtualisasi. Itu kan bukan tantangan di kita saja, pasti industri lain juga melihat tantangan yang sama," kata Yessie. 

Melalui diskusi, maka dia akan dapat melihat berbagai sudut pandang yang berbeda. Ketika sebuah isu muncul, biasanya ada sebagian orang sudah mengadopsi dan sebagian yang lain belum. Masing-masing akan memiliki pandangan terkait kelebihan dan kekurangan dari teknologi baru. "Jadi, saat kita mau terapkan virtualisasi, misalnya, kita sudah tahu risiko apa saja yang harus dihadapi," ujarnya. 

"Sebetulnya, kita harus selalu menyediakan porsi waktu untuk belajar, baik itu membaca, bertemu dengan orang lain, ikut diskusi," katanya. Dia menyebutkan, dalam era digital sekarang ini, jika kita tidak mau tertinggal, maka kita harus "hyper aware" pada berbagai perkembangan yang ada. 

Diversifikasi

Diversifikasi menjadi salah satu poin penting untuk memperkaya pandangan seseorang. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa industri teknologi telah dianggap sebagai "milik" laki-laki. Sebut saja Uber, yang harus melakukan investigasi terkait budaya seksisme yang mengakar dalam tubuh perusahaan. Terkait diskriminasi atau pelecehan seksual, Yessie mengaku dia tidak pernah melihat atau merasakannya di Indonesia. 

Dia melihat, masalah yang biasa dihadapi oleh pekerja profesional wanita justru kesulitan untuk mengungkapkan pencapaiannya. "Kalau perempuan diberi nilai 2 dari 4, dia lebih menerima. Jadi dia melihat kekurangannya sendiri. Beda banget dengan kolega laki-laki yang fokus pada pencapaiannya," katanya. "Akhirnya, balik ke kita, sebagai profesional perempuan, kita harus bisa bilang, ini value yang sudah kami berikan ke perusahaan."

Yessie menganggap, tidak peduli gender seseorang, dalam pekerjaan, tantangan yang dihadapi sama. Karena itu, menurutnya, ketika seseorang berhasil mendapatkan sebuah pencapaian, maka dia harus bisa menyampaikan hal itu. 

"Kalau kita punya achievement, itu yang harus kita artikulasikan." Menurutnya, budaya menjadi salah satu alasan mengapa pekerja di Indonesia kesulitan menunjukkan pencapiaan mereka. "Kalau kita menyampaikan pencapaian kita itu terlihat seperti sombong. Kita tidak biasa nyombong." Namun, dalam dunia pekerjaan yang kompetitif, ujarnya, walau susah, kita harus bisa menyampaiakan pencapaian yang telah kita berikan. 

Sementara itu, Alamanda Shantika Santoso, yang sempat bekerja di Go-Jek dan kini menjadi Program and Curriculum Advisor di Gerakan Nasional 1000 Startup Digital dan Chief Activist di FemaleDev, mengatakan, terkadang, justru pekerja perempuan yang merasa tidak percaya diri ketika diberikan tugas yang lebih penting. 



Untuk mengatasi rasa tidak percaya diri, belajar menjadi kunci bagi Yessie. "Apa sih sumber utama dari rasa nggak pede? Diberikan tugas yang sama sekali baru, ketika yang bersangkutan sama sekali tidak punya background tentang itu," ujarnya. 

Dia bercerita, pada akhir 2011, dia ditugaskan untuk mengembangkan layanan digital. Dia mengaku, sempat terbersit rasa ragu. "Seumur-umur, saya jalan di bidang teknologi, sekarang diberikan kesempatan untuk masuk ke dunia bisnis. Disuruh membangun, mendapatkan penghasilan dari situ. Pastilah, ada rasa 'bisa nggak ya?'" kata Yessie. 

"Yang harus dilakukan adalah membekali diri dengan informasi sebanyak mungkin," ujarnya. "Dari orang yang sukses, apa saja kunci pembelajarannya: apa yang bisa kita contek, apa yang bisa kita hindari, kurang lebih, langkahnya seperti apa. Setelah itu, bisa kita jalankan."

Setelah berada di dunia layanan digital selama 3 tahun, kini Yessie justru merasa beruntung karena sekarang, dia memiliki pengalaman yang lebih kaya dan sudut pandang yang lebih luas. "Sekarang, saya punya lensa dari sisi bisnis dan eksekusi," katanya. "Sebenarnya, tidak perlu takut dengan tugas baru, yang penting adalah membekali diri dengan informasi."

Melawan stereotip
Cara terbaik untuk melawan stereotip bahwa teknologi bukan dunia untuk wanita, menurut Yessie adalah dengan membiarkan semakin banyak wanita yang bekerja di sana. Salah satu contoh wanita yang sukses meniti karir di dunia teknologi adalah Dian Siswarini. CEO XL tersebut merupakan satu-satunya CEO perempuan di perusahaan telekomunikasi Indonesia.

Sementara secara global, salah satu contoh wanita sukses di bidang teknologi adalah Sheryl Sandberg, yang menjadi COO Facebook. Contoh lain yang diberikan oleh Yessie adalah Meg Whitman, yang kini menjabat sebagai President dan CEO dari Hewlett Packard Enterprise.

"Tidak usah takut," saran Yessie pada perempuan muda yang tertarik dengan dunia teknologi. "Kesempatan semua sama kok. Di dunia pendidikan, pada masa kuliah, dan seterusnya, tidak ada yang membedakan perempuan dan laki-laki. Mereka juga harus melakukan hal yang sama," ujarnya. "Jadi, tidak perlu merasa ragu."


(MMI)

Video /