Educa Studio

Berjuang di Industri Game via Edukasi

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 05 Feb 2018 17:49 WIB
gamesgame lokaltech and life
Berjuang di Industri Game via Edukasi
Pendiri dan CEO Educa Studio, Andi Taru Nugroho Nur Wismoyo.

Jakarta: Tidak sedikit orangtua yang melarang anaknya untuk bermain game. Memang, bermain game sering diidentikkan sebagai kegiatan yang tidak bermanfaat.

Pada bulan Desember lalu, WHO (World Health Organization/Organisasi Kesehatan Dunia) bahkan tengah mempersiapkan draf untuk menjadikan kecanduan bermain game sebagai gangguan mental.

Namun, sebenarnya, tak selamanya bermain game memberikan dampak negatif. Ada banyak juga keuntungan yang bisa didapatkan ketika Anda bermain game. Bermain game bahkan bisa dijadikan sebagai sarana edukasi untuk anak.

Tentu saja, orangtua juga harus pintar memilih game yang sesuai bagi anak. Penting bagi orangtua untuk tahu rating game atau isi game sebelum membiarkan anak memainkan game tersebut. 

Ialah Educa Studio, developer game asal Salatiga yang mengkhususkan diri membuat game-game edukasi khusus anak. Andi Taru Nugroho Nur Wismoyo adalah pendiri yang kini menjabat sebagai CEO Educa Studio. Dia bercerita, Educa Studio resmi berdiri pada 2012. Namun, niat untuk membuat produk pendidikan telah Andi miliki sejak lama. 

Pada 2008, ketika dia masih duduk di bangku kuliah, dia telah membeli domain dari educastudio.com. Tiga tahun setelahnya, Andi mulai menjalankan Educa Studio bersama dengan istrinya. Ketika itu, dia hanya membuat game edukasi sederhana. Satu tahun setelahnya, barulah Educa Studio mulai membuat game edukasi dengan serius. 



Ketika ditanya mengapa Educa Studio memilih untuk membuat game edukasi, Andi menjelaskan bahwa memang itu sudah menjadi mimpinya sejak lama.

"Ayah saya adalah seorang guru. Itu menurun kepada saya yang senang sekali mengajar, dan passion istri saya juga di bidang anak-anak dan pendidikan. Kita gabungkan mimpi kami berdua untuk berkontribusi di bidang pendidikan, dari mulai yang paling dasar yaitu anak-anak," kata Andi. 

Perangkat mobile bukanlah satu-satunya platform untuk membuat game. Developer juga bisa membuat game untuk PC atau konsol, seperti PlayStation atau Xbox. Namun, Educa Studio memutuskan untuk fokus pada game mobile.

"Kami memililih mobile karena yang paling mudah dijangkau dan menyentuh di semua kalangan. Mudah untuk didistribusikan dan juga bisa dibawa ke mana saja, jadi fleksibel," kata Andi. 

Developer dan konsumen lokal di mata Andi
Dengan meningkatnya jumlah pengguna internet dan perangkat mobile di Indonesia, tidak heran banyak developer lokal yang bermunculan. Masing-masing memiliki strateginya sendiri untuk menarik hati masyarakat. 

"Saya kira saat ini developer game Indonesia saat ini bervariasi sekali, ada yang mengambil jalan untuk membuat produk yang benar-benar bagus (polished), ada yang mengambil jalan untuk membuat produk sebanyak-banyaknya, ada juga yang melakukan reskin kode yang sudah ada namun diubah temanya disesuaikan dengan tema lokal, ada juga yang fokus ke market yang spesifik misalnya racing game, dan banyak lagi varian developer game Indonesia," ujar Andi. 

Bagi Andi, mempertahankan pengguna yang sudah ada adalah hal yang sangat penting. Karena itu, dia menyebutkan, menambahkan fitur baru pada aplikasi lama tidak kalah penting dengan membuat aplikasi baru. 

Terkait konsumen, Andi mengatakan bahwa warga Indonesia sudah mulai sadar akan keberadaan developer lokal. "Namun memang masih perlu diedukasi lagi bahwa produk yang bagus dan berkualitas membutuhkan waktu, tenaga dan biaya untuk pembuatannya," katanya.

"Kadang-kadang, masih ada konsumen yang langsung memberikan rating satu dan komentar kasar hanya karena ada fitur yang dikunci dan mereka harus membayar. Jadi menjadi PR bersama bahwa menghargai produk lokal perlu ditingkatkan."  



Andi merasa, masyarakat bisa memberikan dukungan pada developer lokal dengan memberikan rating dan juga membeli produk dalam aplikasi.

"Kalau dukungan dari masyarakat positif, maka developer lokal juga akan termotivasi untuk membuat produk yang lebih baik," katanya. "Dan yang paling penting, developer lokal bisa terus hidup karena dapurnya terus mengepul."

Dia bercerita, sekarang, tidak sedikit developer lokal yang mau tidak mau juga mengerjakan proyek lain dari pihak ketiga demi bisa bertahan hidup.

Andi yakin, pasar aplikasi dan game mobile di Indonesia akan menjadi sangat besar. Dengan populasi lebih dari 250 juta penduduk dan pengguna smartphone yang terus naik, memang, pasar Indonesia adalah pasar yang sangat menggiurkan. Ke depan, dia berharap developer Indonesia bisa menjadi "raja di negeri sendiri." 

Untuk bisa menguasai pasar Indonesia, developer lokal juga harus bisa membuat aplikasi dan game yang berkualitas. Sementara pemerintah bisa memberikan dukungan dengan meningkatkan ekosistem industri dan membuat regulasi yang memang mendukung developer lokal. 

"Harapan saya adalah developer lokal yang sudah banyak bermunculan bisa dipacu untuk meningkatkan kualitasnya, sedangkan fokus untuk melahirkan developer baru sudah harus mulai dikurangi," kata Andi.

"Lebih baik fokus pada kualitas daripada kuantitas developer. Saat ini saya melihat, masih lebih fokus pada kuantitas developer (melahirkan developer sebanyak-banyaknya), sedangkan developer-developer yang sudah mulai bagus tidak ada dukungan untuk level up."


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.