Menilik Kiprah Lenovo di Pasar Ponsel Indonesia

Insaf Albert Tarigan    •    Senin, 21 Dec 2015 13:31 WIB
tech and life
Menilik Kiprah Lenovo di Pasar Ponsel Indonesia
Marketing Manager MBG Lenovo Indonesia Miranda Vania Warokka (ANTARA FOTO/Dewi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jika diringkas, strategi pemasaran vendor ponsel di Indonesia umumnya terbagi tiga: mengunggulkan citra, pengalaman penggunaan, dan fungsionalitas. Mengamati kiprah Lenovo di Indonesia dalam setahun terakhir, tampaknya mereka lebih memilih yang kedua.

Kita jarang melihat Lenovo berjualan ala pedagang kue cubit di Pasar Palmerah dengan mengatakan, misalnya, "Facebook-an jadi lancar berkat prosesor super cepat bla bla bla." Mereka juga tak berupaya membuat orang merasa "cool" dengan menjual kalimat semacam "The Future Is Now". (Seiring dengan beroperasinya pabrik mereka di Indonesia, bisa jadi tahun depan kita akan melihat Lenovo getol menjual ponsel 4G LTE seharga kurang lebih Rp1 juta)

Alih-alih demikian, Lenovo mengajak sejumlah jurnalis dari berbagai media nasional untuk jalan-jalan ke tempat wisata sembari menguji produk mereka secara langsung. Pada tahun ini, setidaknya kami sudah mengikuti uji produk Lenovo P70 di Bandung, Vibe Shot di Bangka Belitung dan Vibe S1 di Bali. 

Strategi ini cukup menarik karena pemahaman peserta terhadap keunggulan suatu produk biasanya menjadi lebih dalam. Pada gilirannya, pesan yang ingin disampaikan Lenovo kepada calon konsumen akan terkirim secara lebih meyakinkan melalui media. 

Belajar dari pengalaman vendor lain yang juga sukses mengandalkan pengalaman penggunaan, seperti ASUS dan Xiaomi, Lenovo perlu memperluas segmen peserta dengan melibatkan blogger dan komunitas. Komunitas yang dimaksud tentu saja pengguna produk-produk Lenovo di Indonesia. Belum punya? bikin!

Untuk urusan komunitas, terlihat jelas ada perbedaan besar antara Lenovo, ASUS dan Xiaomi atau pemain baru semacam Infinix. Semua pesaing Lenovo itu lebih serius membentuk, menumbuhkan dan merawat komunitas pengguna mereka. Berkat ketekunan tersebut, ASUS, misalnya, berhasil menjadi pemain penting di pasar ponsel pintar Indonesia, meski sebelumnya lebih dikenal sebagai vendor PC.

Penelitian Counterpoint menunjukkan, ASUS merebut posisi 5 dengan 8,8 persen pangsa pasar ponsel pintar pada Q2 2015 dan 7,1 persen pada Q3 2015. Mereka berhasil menyingkirkan Oppo yang --demi bumi dan langit-- jauh lebih agresif menggelontorkan biaya promosi. Sementara Lenovo masih berada di luar daftar 5 teratas.

Tarun Pathak, Senior Analyst, Mobile Devices and Ecosystems Counterpoint mengatakan, pangsa pasar Lenovo Indonesia pada Q3 2015 mencapai 5,1 persen, yang sebagian besar disumbang oleh penjualan A6000.
 



Walau demikian, Anvid Erdian, 4P Manager MBG Lenovo Indonesia mengaku cukup puas dengan pencapaian perusahaannya sepanjang tahun 2015.



"Tahun 2015 adalah tahun breaktrough bagi Lenovo dan kami cukup puas dengan penjualan kami selama tahun ini. Untuk angka penjualannya saya enggak bisa jawab, tapi pertumbuhan penjualan kami di Q3 naik 12,5% dibanding tahun sebelumnya," katanya kepada Metrotvnews.com, pekan lalu.

Saat mengumumkan peresmian pabrik di Serang, beberapa waktu lalu, Lenovo mengklaim diri sebagai vendor ponsel 4G LTE dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia, yakni 19,2 persen pada kuartal kedua 2015. Mereka juga mengklaim pemimpin dalam penjualan produk melalui online dengan pangsa pasar 27,4 persen pada periode yang sama.

Sayangnya, menurut Counterpoint,  walau pengiriman ponsel 4G LTE meningkat 300 persen, jumlahnya baru mencapai 1 jutaan unit pada kuartal kedua 2015. Sementara kontribusi e-commerce dalam penjualan ponsel pintar masih tergolong rendah, hampir 8 persen pada Q2 2015.

Persaingan pada tahun depan akan lebih menarik tatkala semua vendor sudah merilis ponsel 4G LTE seharga kurang dari atau sama dengan Rp1 jutaan.

Mendiskusikan perjalanan Lenovo sepanjang tahun 2015 dengan Anvid sebenarnya kurang tepat karena karirnya di perusahaan ini belum seumur jagung. Dengan kata lain, dia lebih pas berbicara mengenai rencana Lenovo tahun depan.

Menurut Anvid, Lenovo masih akan meneruskan strategi penjualan dengan mengedepankan pengalaman penggunaan. "Kami sebenarnya ingin agar media dan komunitas bisa melakukan experience langsung yang mendalam terhadap produk kami melalui acara seperti media gathering ini," katanya.

Selain itu, Lenovo masih akan mengandalkan penjualan secara daring melalui e-commerce, meski cara ini telah ditiru banyak pesaingnya. "Jadi, kami sedang mencari strategi pemasaran baru saat ini," ujarnya.

Sebagai informasi, kata dia, pabrik Lenovo di Serang saat ini memproduksi dua tipe smartphone, yaitu Lenovo 2010 dan 6010.

"Ke depannya tentu kami akan melakukan ekspansi dan visi kami adalah seluruh ponsel Lenovo dapat dibuat di pabrik tersebut nantinya. Namun, semuanya akan dilakukan secara bertahap."

Sebagai pengguna, menurut saya, PR terbesar Lenovo tahun depan adalah menghadirkan produk untuk yang gemar ngoprek dan memastikan semua pengguna produk unggulan mereka mendapat update OS paling baru secepat mungkin. Saat ini, Lenovo masih kurang baik dalam merilis pembaruan OS.

Selain itu, tak ada salahnya mereka melibatkan komunitas untuk merancang produk baru atau minimal bertanya/riset/polling fitur apa yang paling dikehendaki pengguna dari produk baru Lenovo. Sebelum itu, mereka tentu harus serius memperhatikan komunitas terlebih dahulu.

Sebagai pelengkap strategi marketing yang mengedepankan pengalaman penggunaan, Lenovo perlu mempertimbangkan viral dan native advertising.


(ABE)

HP In-Ear Headset 150, Earphone Terjangkau Suara Jernih
Review Earphone

HP In-Ear Headset 150, Earphone Terjangkau Suara Jernih

3 days Ago

HP In-Ear Headset 150 menawarkan suara yang jernih dan desain yang nyaman dengan harga yang cuk…

BERITA LAINNYA
Video /