Red Hat

Open-Source Demi Tekan Biaya Operasional Perusahaan

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 14 Nov 2017 06:25 WIB
red hattech and lifecorporate
Open-Source Demi Tekan Biaya Operasional Perusahaan
Country Manager Red Hat Indonesia, Rully Moulany. (MTVN)

Metrotvnews.com, Jakarta: Layaknya Daud yang sanggup mengalahkan Jalut, startup seperti Go-Jek pun bisa membuat perusahaan seperti Blue Bird kalang kabut. Di era serba digital ini, transformasi digital menjadi hal yang harus setiap perusahaan lakukan. Red Hat merupakan salah satu perusahaan yang menyediakan solusi software open-source

Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, software dengan sumber terbuka atau open-source adalah sistem pengembangan yang tidak dikoordinasi oleh seorang individu atau satu lembaga pusat, tapi oleh para pelaku yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source code) yang tersebar dan tersedia bebas. Biasanya menggunakan fasilitas komunikasi internet. 

Dalam wawancara eksklusif dengan Country Manager Red Hat Indonesia, Rully Moulany, dia menjelaskan, salah satu keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan yang menggunakan software open-source adalah harga yang lebih terjangkau. 

"Bisnis itu kan yang penting pendapatan naik, pengeluaran turun, atau market share bertambah," kata pria yang akrab dengan sapaan Rully ini.

"Teknologi open-source lebih efisien dari segi biaya, itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Bukannya tanpa biaya," dia menjelaskan, "Tapi jauh lebih efisien."

Selain itu, dia mengungkapkan, penggunaan solusi open-source memungkinkan perusahaan lebih fleksibel. Ini sangat penting di tengah era pasar yang kompetitif. "Perusahaan bisa menjadi lebih inovatif, baik dari sisi produk, dari layanan atau dari bagaimana mereka melihat pasarnya menjadi lebih kreatif lagi. Itu semua hanya bisa dilakukan ketika mereka punya fleksibilitas," katanya. 



Rully menjelaskan, fleksibilitas pada perusahaan tidak melulu tentang memungkinkan perusahaan untuk meluncurkan produk dengan cepat, tapi juga tentang membuat perusahaan responsif pada tuntutan pasar.

"Kemampuan untuk membaca pasar dan bereaksi dengan cepat. Karena terkadang, yang sukses itu bukan yang pertama masuk ke pasar," katanya.

"Kuncinya kan bukan siapa yang pertama meluncurkan, tapi bagaimana perusahaan bisa berekasi dengan cepat, meluncurkan produk yang lebih baik, dan ini berlaku secara umum, untuk perusahaan telekomunikasi atau e-commerce dan lain sebagainya."

Keberadaan Red Hat di Indonesia
Rully mengklaim, Red Hat adalah satu-satunya perusahaan penyedia solusi enterprise open-source yang hadir di Indonesia. "Kita menanamkan modal di Indonesia, kita rekrut pekerja dan melayani pasar Indonesia," katanya. Alasannya sederhana, Red Hat melihat Indonesia memiliki potensi pasar yang "luar biasa."

Pada saat yang sama, ujar Rully, ada tantangan tersendiri yang harus Red Hat hadapi di Indonesia. Salah satunya adalah masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur terbiasa dengan solusi non-open-source.

"Tugas terberat kami adalah meningkatkan awareness, memberikan berbagai informasi terkait tentang apa yang dimaksud dengan open-source, kenapa perusahaan-perusahaan di Indonesia akan mendapatkan keuntungan lebih ketika mereka menggunakan solusi open-source," katanya. 

Red Hat memanfaatkan media sebagai corong untuk mengedukasi calon pelanggan. Dengan melakukan acara seperti media briefing, wawancara atau bahkan acara dengan pelanggan, Red Hat berharap kesadaran masyarakat akan keberadaan solusi software open-source akan lebih meningkat. 



Dua setengah tahun menjabat sebagai Country Manager Red Hat Indonesia, Rully menyebutkan bahwa dia merasa optimistis dengan peningkatan tingkat kesadaran masyarakat akan software open-source.

"Kami memang belum pernah mengadakan survei ilmiah, tapi dari kunjungan kami ke pelanggan dan percakapan dengan mitra, rasanya, tidak ada satupun perusahaan di Indonesia yang tidak melirik teknologi open-source."

Dia menyebutkan, pernyataannya ini didukung oleh perusahaan pihak ketiga seperti Forrester Consulting, yang sempat melakukan studi pada 455 CIO dan pengambil keputusan TI senior dari 9 negara di Asia Pasifik.

Menurut hasil studi itu, 35 persen responden Indonesia mengatakan bahwa perusahaan mereka telah mengimplementasikan solusi open-source, sementara 6 persen berencana untuk memperluas implementasi open-source dan 59 persen berencana untuk menerapkan solusi open-source dalam 12 bulan ke depan. 

Solusi Red Hat
Red Hat menawarkan berbagai solusi software, mulai dari virtualisasi, sistem operasi, storage sampai komputasi cloud. Rully membandingkan solusi dari Red Hat layaknya Lego. "Lego kan bisa dibuat menjadi rumah, mobil atau pesawat," katanya.

"Pada akhirnya, solusi itu harus sesuai dengan apa yang pelanggan mau. Karena itu, sangat penting bagi kami untuk memiliki engagement yang konsultatif dan kemitraan."

Dia menjelaskan, itu artinya Red Hat harus bisa menemukan kesulitan yang calon kliennya hadapi. "Berbeda dengan penjualan ke konsumen. Dalam penjualan enterprise, kita harus melakukan konsultasi, masalah klien dimana. Karena itu, kami bukannya menjual produk, tapi menawarkan kemitraan. Kenapa? Karena kami tidak menjual software. Software kami tawarkan dalam bentuk berlangganan."

Dengan begitu, Rully menjelaskan, kesuksesan Red Hat sangat tergantung pada kesuksesan klien. "Jika konsumen tidak lagi puas, ya bye bye. Itu yang membedakan kami dengan penyedia solusi enterprise lainnya."

Rully membanggakan, dengan solusi dari Red Hat, klien tidak lagi memerlukan hardware yang terlalu canggih dengan harga selangit. "Barang murah pun kalau dipasang Red Hat bisa jadi," katanya. Lebih lanjut dia menceritakan, Red Hat punya visi ke depan untuk membuat data center yang diatur oleh software.

"Pasti butuh hardware, tapi tidak perlu yang mahal-mahal. Nanti software yang akan mengatur semua itu."



Jika hal itu sudah terealisasi, maka kemampuan Sumber Daya Manusia menjadi penting. Dia merasa, biaya yang telah dihemat dari ongkos pembelian hardware, dapat digunakan untuk melatih para karyawan. "Penghematan yang perusahaan lakukan dari server mewah ke server biasa bisa digunakan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan para karyawan mereka," ujarnya. 

Saat ditanya harapannya di masa depan, Rully mengaku dia berharap perusahaan Indonesia akan menjadi lebih inovatif. "Jangan mau kalah dengan startup," ujarnya. Dia sadar, saat ini, sudah ada perusahaan besar yang bersedia untuk bekerja sama dengan startup, "Saya angkat topi untuk perusahaan-perusahaan Indonesia yang bisa beradaptasi di era yang sangat kompetitif," katanya, sebelum menambahkan bahwa kerja sama itu masih belum mencapai taraf maksimal. 

Dia menyebutkan, kini, perusahaan besar cukup kesulitan merekrut karyawan baru. Alasannya karena para developer biasanya ingin bekerja di startup. "Dulu, kalau mendapat penawaran dari bank, tidak usah pikir panjang lagi. Sekarang, sudah berbeda pemikirannya," katanya. Kini, calon karyawan juga ingin kebebasan jam kerja dan kebebasan cara berpakaian. 

Rully mengatakan, perusahaan-perusahaan besar sudah mulai mengadopsi hal itu. "Tapi masih belum cukup, masih perlu ditingkatkan lagi. Itu harapan saya yang terbesar," ujarnya. 


(MMI)

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie
Review Smartphone

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie

11 hours Ago

Vivo V7 Plus kembali mengunggulkan kemampuan kamera depan, yang diklaim mampu memanjakan penggu…

BERITA LAINNYA
Video /