Kontroversi Uber, Lyft dan Persinggungannya dengan Silver Bird

Insaf Albert Tarigan    •    Rabu, 20 Aug 2014 10:38 WIB
uber
Kontroversi Uber, Lyft dan Persinggungannya dengan Silver Bird
Sopir taksi demonstrasi menentang kehadiran Uber dan Lyft di California (Foto: Reuters/Max Whittaker)

Metrotvnews.com: Ketika mengumumkan kehadirannya di Jakarta pada Juni lalu, belum banyak yang mengetahui informasi tentang Uber, layanan yang menghubungkan pengguna dengan mobil sewaan. Ketika mendengar Uber, sebagian orang mengira yang dimaksud adalah Uber Twitter.

Namun, kurang dari dua bulan, tanpa perlu promosi besar-besaran, Uber kini menjadi pembicaraan hangat di media massa. Penyebabnya tak lain adalah kontroversi, seperti halnya ketika Uber muncul di New York, Milan, Roma, London atau Berlin.

Kontroversi, tentu saja, selalu punya positif di samping hal negatif. Dalam kasus Uber, mereka kini menjadi buah bibir di antara para pekerja di Jakarta. Banyak yang mengunduh aplikasinya, mencoba-coba layanan dan akhirnya menjadi pelanggan.

Kehadiran Uber di beberapa negara Eropa, Juni lalu, disambut demonstrasi dan mogok oleh puluhan ribu pengemudi taksi. Uber dianggap semacam taksi gelap kalau di Indonesia. Hal ini pula yang terjadi sesaat setelah mereka mengumumkan kehadiran resmi di Jakarta dengan mengundang media massa pada pekan lalu.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengancam akan menjebak dan menutup Uber. Uber dituding melanggar semua aturan: tak hanya izin, tetapi juga perpajakan dan perlindungan konsumen.



Seperti pemerintah Berlin, Pria yang akrab disapa Ahok tersebut mengkhawatirkan keselamatan pengguna. "Kalau ada apa-apa, kamu tahu enggak mengadu ke mana?" katanya, Selasa (19/8).

Terlepas dari urusan legalitas tersebut, Uber melalui blog resmi pernah menjelaskan bahwa mereka menggandeng Big Durian sebagai mitra lokal di Indonesia. Mereka juga memamerkan sejumlah figur terkemuka sebagai konsumen, termasuk pengusaha Sandiaga Uno, artis Rhaline Shah, dan Puteri Indonesia Whulandary Herman.

Untuk Anda yang belum tahu, Uber pada mulanya muncul di kota San Fransisco, Amerika Serikat, pada tahun 2009. Berkat dukungan sejumlah investor, mereka berkembang pesat hingga bisa ekspansi ke negara Eropa dan Asia Pasifik.

Uber vs Lyft
Di negeri Asalnya, Uber mendapat persaingan sangat sengit dari Lyft yang juga menawarkan layanan yang nyaris identik. Lyft kini sudah hadir di 60 kota di Amerika Serikat, dan bukan tak mungkin, berkat dukungan investor, mereka juga akan ekspansi hingga ke Indonesia.

Cara pemesanan Lyft persis seperti Uber, yakni melalui aplikasi. Antarmuka aplikasinya juga mirip, demikian juga dengan sistem pembayaran dan jenis mobil sewaan yang disediakan.



Persaingan Uber vs Lyft bahkan sudah masuk pada level kurang sehat. Keduanya dikabarkan saling intrik. Uber pernah menuduh Lyft memesan dan membatalkan puluhan ribu layanannya, sementara Lyft menuding bahwa Uberlah yang melakukan tindakan demikian.


Layanan Lyft (Foto: Reuters/Lucy Nicholson)

Dari segi modal, posisi Uber dan Lyft tidak seimbang. Pada awal Agustus ini, Uber mendapat kucuran dana Rp13,9 triliun, sedangkan Lyft hanya Rp2,9 triliun.

Untuk melihat ketatnya persaingan Uber dan Lyft berikut kami sarikan daftarnya dari Los Angeles Times.

Lyft menuduh karyawan Uber melakukan serangan denial-of-service.
Lyft pada pekan ini mengatakan bahwa setidaknya 177 orang yang diketahui sebagai karyawan Uber telah membuka aplikasi Lyft dan memesan tumpangan kemudian membatalkannya dengan tujuan untuk mengacaukan layanan Lyft dan mendorong konsumen untuk memilih Uber. Menurut Lyft, karyawan Uber telah melakukan hal semacam ini sebanyak 5.560 kali sejak Oktober tahun lalu. Serangan terbaru terjadi ketika Lyft meluncurkan layanan di New York City.

Tentu saja Uber membantah telah menyerang Lyft, mereka berbalik menuduh karyawan, pengemudi dan pendiri Lyft telah membatalkan 12.900 pesanan di aplikasi Uber.

Uber lebih menarik untuk investor
Pada April 2014, Lyft mendapat kucuran dana sebesar Rp2,9 triliun dari investor, sedangkan Uber pada Juni lalu mengumumkan mereka berhasil meraih Rp13,9 triliun.

Rebutan sopir
Uber dilaporkan telah merebut sopir Lyft dengan menawarkan bonus kepada mereka sejak tahun lalu, tetapi menurut Forbes, sesudah mendapatkan dana Rp2,9 triliun dari investor, Lyft mulai menggunakan taktik serupa.

Layanan carpool
Pekan lalu, kedua perusahaan ini memasuki area pertempuran baru dengan sama-sama meluncurkan layanan carpool. Pada Senin dan Selasa, Lyft menghubungi reporter untuk mengumumkan layanan Lyft Line yang akan diluncurkan keesokan harinya, tetapi beberapa jam kemudian, Uber mengumumkan UberPool di blognya, mendahului Lyft.

Lyft berhenti mengambil komisi
Segera sesudah mendapat kucuran dana pada April lalu, Lyft mengumumkan bahwa mereka tak akan mengambil komisi apa pun dari sopir dan menekan tarif hingga 10 persen, hingga lebih murah dari Uber. Uber tak membalas strategi tersebut dan terus mengambil komisi dari sopirnya.

Pekan ini, Lyft kembali mengambil komisi, tetapi mereka mengubah kebijakannya: kian lama sopir bekerja untuk Lyft, komisi yang harus mereka bayar kian sedikit.

Uber vs Blue Bird Group?

Dengan dana sebesar Rp13 triliun, dan kemungkinan bisa bertambah, akankah Uber menggangu kemapanan Blue Bird Group yang sudah puluhan tahun menguasai pasar taksi di Indonesia?

Jika dilihat kondisi pada saat ini, layanan Uber sudah bersinggungan dengan layanan Silver Bird yang juga menawarkan sejumlah fasilitas untuk penumpang kelas atas. Namun, dalam hal kemudahan pemesanan via aplikasi, Silver Bird masih tertinggal dibanding Uber.

Akan menarik untuk melihat, apakah Blue Bird Group mampu bertransformasi untuk menghadapi ancaman Uber.


(ABE)

Video /