Ghosty's Comic

Komikus Digital Bukan Profesi Instan

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 09 Oct 2017 06:21 WIB
teknologitech and life
Komikus Digital Bukan Profesi Instan
Raden Fajar Hadria Putra, komikus yang terkenal lewat komik strip GHOSTY’S Comic dan karakter Sultan.

Metrotvnews.com, Jakarta: Era digital membuat segala sesuatu lebih mudah dibagikan dan didapatkan oleh semua orang. Kondisi ini di sisi lain juga membuat sebuah peluang bagi bisnis atau profesi yang selama ini tidak mendapatkan panggung dan perhatian dari banyak orang.

Misalnya, komikus. Jika dahulu komikus hanya dijumpai pada karya yang sudah dicetak, kini komikus bisa membagikan karyanya tanpa harus karya mereka diterima oleh sebuah percetakan. Caranya, unggah ke medial sosial atau platform komik digital.

Meskipun terdengar mudah, seperti kebanyakan profesi yang mengandalkan kepopuleran di media sosial, menjadi komikus tetap bukan profesi yang instan di era digital.

Hal ini tersirat dari percakapan Metrotvnews.com dengan komikus yang beberapa tahun belakang semakin populer lewat unggahan karyanya di media sosial. Raden Fajar Hadria Putra, komikus yang terkenal lewat komik strip GHOSTY’S Comic dan karakter Sultan. Komik buatan pria yang akrab disapa Fajar ini menceritakan keseharian dari penggemar mainan yang kerap ‘khilaf’ ketika membeli mainan.



Fajar yang merupakan lulusan program studi teknik informatika ITB tahun lalu ini menuturkan, jauh sebelumnya dia tidak pernah memiliki niatan untuk menekuni hobi menggambarnya yang kemudian menjadi profesi seperti saat ini. GHOSTY’S Comic disebut sudah populer sejak tahun 2015 dan Fajar sudah mencetak dua buku dari karyanya.

“Kenapa lulus dari situ (jurusan teknik informatika) terus bisa nyambung komik? Awalnya cuma hobi yang sudah ada sejak duduk di SMP (Sekolah Menengah Pertama). Jadi, doodling bikin gambar komik dan karakternya. Nah ini berlanjut pas kuliah dan magang, ketika jenuh saya biasanya iseng menggambar komik dan hasilnya diunggah ke media sosial dan kebetulan aja jadi viral sehingga bisa seperti saat ini,” tutur Fajar.

Melihat komik strip GHOST’s Comic, Fajar mengakui bahwa komik buatannya tidak memiliki gaya komik yang berseni seperti komikus lain atau komik asal Jepang maupun Amerika Serikat yang tengah populer. Komik karya Fajar populer dan viral karena cerita yang dihadirkan menyentuh cerita sebuah komunitas yang eksis, penggemar mainan dan popculture Negeri Sakura.

Fajar menambahkan bahwa kala itu dia mulai melihat bahwa kepopuleran karya pertamanya tersebut sangat sayang jika hanya menjadi hobi. Berbekal pertemanannya dengan sesama penggiat industri komik lambat laun hobi Fajar mulai dirintis menjadi profesi dan karyanya mulai mendapatkan perhatian dari para komikus lain yang sudah lebih dulu menggairahkan industri komik di Tanah Air. Hal ini juga yang sekarang membuat Fajar kerap diundang sebagai tamu dalam berbagai acara terkait komik dan pop culture.



Bukan berarti profesi komikus yang dirintis Fajar terjadi secara instan. Dia sempat menceritakan betapa sulitnya merintis profesi tersebut ketika dia masih berstatus mahasiswa tingkat akhir. Berbekal optimisme, dia rela membagi waktunya untuk kuliah dan profesinya sebagai komikus. Menurut Fajar, dirinya sangat beruntung karena memilih untuk tidak menelantarkan GHOSTY’S Comic yang saat itu sedang populer.

“Mumpung ada kesempatan ya jangan ditinggalin. Saat itu saya juga baru sadar bahwa komikus bisa menjadi profesi. Kebayangkan masih kuliah tapi sudah punya profesi, sebuah kebanggan meskipun saya harus disiplin membagi waktu antara kuliah dan profesi sebagai komikus,” imbuh Fajar.

“Setelah saya lulus begini, saya baru kepikiran sih kalau waktu itu komik ini saya tinggalkan apa iya saya bisa jadi seperti sekarang ini. Beruntungnya orang tua mendukung dan memaklumi. Kini mereka melihat sendiri bahwa profesi komikus menjadi sebuah prestasi bagi saya yang bisa dibanggakan juga oleh mereka,” jelas Fajar.

Diskusi dengan Fajar mulai serius ketika dirinya diberikan pertanyaan soal pandangan dia mengenai dunia komik Indonesia dan profesi sebagai komikus yang kini ramai karena semua orang bisa mengunggah komiknya ke media sosial dan menjadi populer. Raut wajahnya mulai serius, menurutnya menjadi komikus hanya dengan memanfaatkan gambar yang bagus serta mengunggahnya ke media sosial tidak menjamin keberhasilan profesi sebagai komikus.

“Ada banyak yang tanya ‘kalau jadi komikus dapat uang seberapa besar sih?’ Pertanyaan semacam ini biasanya dari mereka yang juga baru berniat jadi komikus. Saya akan bilang kalau menjadi komikus itu gak bisa dari awal mikirin uangnya berapa. Justru fokus dulu sama karyanya, teknis dan isi dari komik yang kita buat. Cari ide yang segar tapi pas!” tutur Fajar dengan mantap.



Menurutnya penghasilan sebagai komikus juga bukan hanya dari karya komik yang diunggah tetapi juga alternatif lain misalnya menjual merchandise, jadi komikus juga harus pintar mencari peluang bisnis.

Ditanya lebih baik membuat komik berdasarkan apa yang orang suka atau hal yang kita (komikus) suka, Fajar menjawa dengan tegas bahwa kita harus membuat komik sesuai dengan keahlian yang temanya pun disukai oleh komikus sendiri. Percuma jika membuat komik hanya dengan mengutip tema yang sedang disukai oleh pembaca komik kalau komikus itu tidak menguasai bahan sebab akan sangat terbaca kalau isi komiknya dipaksakan.

“Komik itu bukan karya instan, butuh ide segar dan harus konsisten dalam pembuatannya. Saya sendiri suka pusing kalau dalam jangka waktu tertentu sama sekali belum mendapatkan ide atau komik yang selesai dibuat. Kalau ingin sukses juga jangan hanya unggah ke media sosial, rajin ikut kompetisi komik juga supaya bisa mendapatkan pengalaman yang bisa mengasah kualitas komik kita. Semua komikus juga banyak yang memulai dari nol, hanya saja waktu yang dibutuhkan untuk populer berbeda-beda. Nikmatin aja dulu jalannya,” beber Fajar.



Fajar optimistis bahwa profesi komikus dan dunia komik di Indonesia akan sangat berkembang pesat. Hal ini sudah terlihat jelas sejak beberapa tahun belakangan. Teknologi digital seperti media sosial dan layanan komik digital atau webtoon jumlahnya sudah sangat banyak dan banyak komikus Indonesia yang berhasil bersaing dengan komik luar lewat media tersebut.

“Di Indonesia, mungkin pembacanya masih kurang memahami betapa profesi komikus merupakan pekerjaan yang membutuhkan kerja keras. Di Jepang yang industri komiknya sudah sanngat populer para komikusnya bekerja keras untuk menghasilkan karya yang berkualitas. Jadi ketika merintis profesi sebagai komikus jangan mikirin uang dulu, yang penting berkarya saja dulu sesuai yang kita kuasai dan sukai,” ungkap Fajar


(MMI)

Huawei Nova 2i, Jawaban 4 Kamera di Kelas Menengah
Review Smartphone

Huawei Nova 2i, Jawaban 4 Kamera di Kelas Menengah

1 week Ago

Huawei Nova 2i dilengkapi dengan 4 kamera. Inilah ulasan lengkap performanya. 

BERITA LAINNYA
Video /