Ulasan Start-Up

DroidLime, Segar dengan DroidLady

Insaf Albert Tarigan    •    Jumat, 26 Jun 2015 10:56 WIB
tech and life
DroidLime, Segar dengan DroidLady
Romi (kiri), Adit (kanan) dan para DroidLady

Metrotvnews.com, Jakarta: Salah satu alasan paling klise semua orang untuk menunda membuka usaha sendiri adalah belum ada modal. Karena itu, kita mafhum jika di luar sana bertaburan acara seminar, buku yang bertajuk “membuka usaha tanpa modal”. Jika memang berniat kuat, kesulitan modal sebenarnya bisa diakali dengan banyak cara.

Bagi Romi Hidayat, CEO dan pendiri DroidLime, blog teknologi yang baru berusia sekitar delapan bulan, salah satu caranya adalah dengan menyisihkan uang jajan. Berbekal modal yang hanya Rp10 jutaan, dia merintis DroidLime secara perlahan.

“Gue dulu suka beli action figure, game, dan lain-lain. Itu gue setop, dan gue alihkan untuk modal,” katanya dalam perbincangan hangat dengan Metrotvnews.com, Rabu, 24 Juni lalu.

Pilihan Romi untuk mendirikan blog teknologi terbilang berani karena persaingan di segmen ini cukup ketat. Sudah banyak situs serupa yang telah berkiprah terlebih dahulu dengan dukungan sumber daya manusia dan modal yang jauh lebih mapan. Masih adakah tempat bagi pendatang baru yang bukan dari grup perusahaan besar?

“Gue yakin bisa memberikan sesuatu yang baru,” katanya.

Keyakinan itu tak berlebihan, DroidLime memang –sesuai namanya-- menawarkan sesuatu yang terasa segar dan berbobot. Mengambil inspirasi dari GSMArena, mereka dengan sabar membangun database mengenai semua ponsel dan beberapa wearable device yang beredar di Indonesia. Harapannya, saat konsumen hendak membeli ponsel, mereka akan teringat dan mengecek informasinya di situs tersebut.

“Dari awal sampai sekarang, kami sudah punya data seribuan smartphone, ada juga wearable. Dan itu semua dibikin manual.”

Fokus utama DroidLime adalah membahas smartphone baru yang beredar di Indonesia. Walaupun pengalaman Romi sebenarnya lebih banyak di bidang peranti keras dan komponen PC. Dia beralih ke gadget karena jenuh, ingin mencari tantangan baru dan juga mempehatikan tren pertumbuhan pengguna smartphone yang sangat cepat.



Walau masih belia, DroidLime sudah memiliki puluhan ribu pembaca setia, yang tercermin dari jumlah pelanggan kanal mereka di YouTube. Rahasianya adalah DroidLady.

DroidLime menjadi buah bibir berkat rubrik DroidLady yang --dalam bahasa Romi-- ditemukan secara tak sengaja. Aditya Wasa Wirman, mitra Romi dalam merintis DroidLime mengusulkan rubrik ini sebagai ciri khas DroidLime. Sebagai permulaan, Adit rajin meminta bantuan teman-teman dekatnya agar bersedia menjadi DroidLady. Dari puluhan DroidLady yang sudah diulas, DroidLime akhirnya memilih 7 perempuan sebagai ikon. Mereka secara rutin bergantian membawakan review produk di kanal DroidLime.

Pada mulanya, DroidLady adalah tulisan feature mengenai perempuan-perempuan cantik dan kaitannya dengan teknologi yang mereka gunakan sehari-hari. Konsep ini kemudian mereka lanjutkan ketika membuat video review produk, dengan menampilkan perempuan kinyis-kinyis sebagai host.



Tak dinyana, video review itu disukai penonton dan jumlah pelanggan kanal mereka di YouTube melejit di luar perkiraan. Respons positif ini melecut semangat Romi dan Adit untuk memperbanyak konten video.

Kesukaan penonton bukan semata-mata karena host-nya cantik, tetapi juga konten berbobot berkat pengalaman Romi sebagai jurnalis teknologi dalam enam tahun belakangan. Romi menjaga kualitas konten untuk menepis anggapan bahwa DroidLime hanya “jualan” perempuan.

“Gue memilih 'Lady' bukan 'Babes' atau yang lain karena kesannya elegan. Pakaian mereka juga selalu sopan,” katanya.

Agar tak melulu menguras kantong, mereka juga bergerak menawarkan kerja sama dengan beberapa vendor. Ndilalah, tawaran perdana justru datang dari Lazada saat toko online ini hendak membuat video review untuk mendukung program flash sale Lenovo A6000. Karena berjalan lancar, kerja sama itu akhirnya berlanjut sampai hari ini.

Menariknya, saat meluncurkan dan membesarkan DroidLime, alih-alih langsung memberi perhatian 100 persen, Romi melakukannya sambil bekerja penuh waktu di tempat lain. Dia hanya menyisihkan waktu di akhir pekan untuk mengurusi hal-hal penting terkait DroidLime. Sementara pengelolaan konten harian diserahkan kepada Aqmal Maulana, yang rutin meliput acara-acara teknologi di Jakarta. Alasan Romi untuk tak langsung “nyemplung” sederhana saja, bisnis DroidLime belum cukup untuk menunjang biaya hidup para pendirinya.

Namun seiring berjalannya waktu, saat DroidLime tumbuh semakin besar, beban kerja bertambah, potensi pendapat mulai terlihat, pilihan itu akhirnya datang juga: tetap jadi karyawan dengan banyak proyek sampingan atau sepenuhnya jadi pengusaha dengan segala peluang dan risikonya. Romi memilih yang terakhir.

“Gue akan resign akhir bulan ini (Juni) dan full time di Droid Lime,” katanya. “Modal yang kita punya sudah lumayan dan gue sih yakin ke depan bakal jalan.”

Senada dengan Romi, Adit juga memutuskan untuk keluar dari tempat kerjanya. Sementara dua rekan mereka yang lain akan menyusul belakangan. Dalam akta pendirian PT yang sedang mereka ajukan ke Kementerian Hukum dan HAM, DroidLime memiliki lima orang pendiri. Namun yang sejak awal sudah bekerja penuh hanya Aqmal dan karena itu pula hanya dia yang digaji secara rutin.

Bagaimana mereka akan menggaji para pendiri?

Romi menjelaskan, saat semua anggota tim DroidLime sudah bergabung secara penuh, pendapatan usaha akan dibagi secara rata. “Tapi enggak semua (pendapatan), pasti ada yang kita simpan untuk operasional,” katanya.

Berbeda dengan start-up lain yang agresif mencari pemodal, Romi justru sebaliknya, sangat pilih-pilih investor. Alasannya, dia ingin mengelola DroidLime dengan “happy” tanpa terbebani target-target yang ditetapkan pemodal.

“Gue mau terima investor asal dia enggak usah ngatur-ngatur, pokoknya kasih duit, terima beres,” katanya.

Untuk menjaga independensi, Romi mengaku berani menolak iklan jika DroidLime dipaksa hanya melebih-lebihkan kualitas suatu produk.

Monetisasi bukan lagi problem tak terpecahkan bagi DroidLime. Tantangan mereka ke depan adalah mengurangi ketergantungan terhadap Romi. Sebab, untuk saat ini, posisinya belum tergantikan oleh siapa pun ketika berhalangan.

“Gue setuju. Gue menyadari itu,” katanya.

Romi bermimpi, suatu saat DroidLime akan menjadi nomor satu di Indonesia dan jangkaunnya hingga ke Asia. Belakangan, berkat bantuan rekan yang tinggal di Australia, mereka mulai menyediakan subtitle Bahasa Inggris di video review DroidLime.

Idealis? Bisa jadi, tapi bukankah, mengutip Tan Malaka,  Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda?


(ABE)

Lenovo K6 Power, Saat Baterai adalah Segalanya
Review Smartphone

Lenovo K6 Power, Saat Baterai adalah Segalanya

1 day Ago

Melihat sepak terjang Lenovo selama ini, mereka tampaknya sadar betul bahwa konsumen Indonesia …

BERITA LAINNYA
Video /