Miranda Vania Warokka

Industri Teknologi, Dinamis dan Penting untuk Tentukan Prioritas

Lufthi Anggraeni    •    Minggu, 10 Jul 2016 14:36 WIB
tech and life
Industri Teknologi, Dinamis dan Penting untuk Tentukan Prioritas
Miranda Vania Warokka, Marketing Manager MBG Lenovo Indonesia.

Metrotvnews.com, Jakarta: Sama halnya dengan industri lain yang ada di dunia, industri teknologi menjadi salah satu bidang dengan kedinamisan yang menarik perhatian sejumlah kalangan. Ranah ini turut menyuguhkan tantangan yang berbeda di setiap bidang yang disentuhnya, juga bagi pelaku yang terlibat di dalamnya.

Dinamisme industri teknologi juga menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Miranda Vania Warokka, Marketing Manager MBG Lenovo Indonesia. Terlebih dengan kenyataan bahwa industri ini mengusung nuansa maskulin yang kental, baik di perusahaannya bernaung, serta di lingkungan sekitarnya.

Mengenyam pendidikan arsitektur di fakultas teknik sipir perencanaan salah satu universitas di Jakarta, Miranda mengaku awal keterlibatannya di industri teknologi setelah merasakan industri yang sesuai dengan pendidikannya tersebut kurang bergairah. Terinspirasi dari teman yang beralih ke dunia marketing, Miranda pun turut memberanikan diri mengikuti jejak teman-temannya.

Industri teknologi bukannya bidang pertama yang dirambahnya setelah beralih ke bidang marketing. Baru pada tahun 2006, Miranda berkesempatan untuk berkontribusi di LG yang kala ini baru saja mendirikan divisi mobile, juga sebagai Marketing Communication.



Miranda mengaku, awalnya hanya tertarik pada dinamisme yang dihadirkan oleh dunia marketing, dan tidak membatasi ranah yang akan digelutinya. Namun, kegemarannya berganti ponsel disebutnya turut mengantarkannya untuk merambah dunia teknologi, terutama divisi mobile, selain dikarenakan klien yang ditanganinya selama bekerja di perusahaan sebelumnya sebagian besar merupakan pelaku industri ini.

Menurutnya, industri teknologi terlebih divisi mobile sangat dinamis, dengan pergerakan dan pergantian produk yang cepat. Terlebih jika dibandingkan dengan ranah Consumer Goods yang umumnya hadir dengan satu produk namun dengan masa kampanye yang panjang.

Terjun langsung ke dalam industri ini menghadirkan pengalaman berbeda bagi Miranda, yang sebelumnya hanya melihat industri ini sebagai konsumen. Menurutnya, di balik produk-produk menarik yang dihadirkan produsen ke pasar, terdapat banyak faktor pendukung. Faktor tersebut memungkinkan produsen menghadirkan sejumlah penawaran menarik dan padat untuk konsumen.

"Ada product marketing, ada marketing, ada service, yang semua itu diramu jadi satu sehingga ada satu offer yang compact begitu untuk costumer, baik itu offer dalam bentuk product maupun benefit. Banyak banget yang perlu dikerjain untuk bisa nawarin offer itu."

Saat disinggung soal peran perempuan di industri teknologi, Miranda mengaku perempuan memiliki perannya tersendiri untuk dapat melengkapi dominasi laki-laki. Menurutnya, industri ini sangat kental dengan dominasi laki-laki, terlihat dari jumlah pekerja yang mencapai 80 persen dari total keseluruhan pekerja di industri ini. Bahkan, lanjut Miranda, dalam menjalin kerjasama dengan distributor pun, sebagian besar pekerja yang harus dihadapinya adalah laki-laki.

Namun kehadiran perempuan disebutnya sangat diperlukan untuk industri ini, terutama di bidang marketing dan perencanaan. Karena sebagian besar laki-laki lebih terfokus pada hasil akhir dan dinilainya kurang mempedulikan proses dan cara untuk mencapai hasil akhir tersebut. Sementara itu, perempuan dinilai mampu membuat perencanaan dengan lebih detil dibandingkan dengan laki-laki.

Sementara itu, saat ditanya dukungan Lenovo terhadap pekerja perempuan, Miranda menyebut perusahaannya tersebut sudah memberikan dukungan yang baik. Salah satunya dengan memberikan kesempatan untuk beristirahat di rumah selama satu hari setiap bulannya, serta menunjukan toleransi kepada pekerja perempuan dengan menghadirkan kebijakan survei lapangan dilakukan oleh pekerja lak-laki. Namun, menurutnya hal ini tidak membatasi pekerja perempuan untuk terjun langsung ke lapangan. Pekerja perempuan dapat menyusul jika keadaan mereka sudah memungkinkan.

Mengusung jabatan yang terbilang tinggi, Miranda mengaku menikmati kesibukannya saat ini. Namun, disinggung kiat menyeimbangkan kehidupan di keluarga dan karir, perempuan penyuka olahraga yoga ini menyebut, keseimbangan tersebut hanyalah dongeng semata. Sebagai pekerja yang memiliki keluarga, Miranda menyebut pentingnya memilih dan menentukan prioritas.



"Kita harus memilih. Kalau memang misalnya ingin fokus ke pekerjaan, pasti ada yang terkorbankan di rumah. kompensasinya apa. kalo mau fokus ngurus anak, ya ga bisa yang namanya fokus 100 persen ke pekerjaan. Jadi yang aku bilang itu bukan balance sih, tapi ke prioritas."

Beruntungnya, di perusahaan tempatnya bernaung, Miranda mengaku di kelilingi oleh atasan, rekan kerja dan manajemen yang juga berorientasi pada keluarga. Sehingga dapat mendukung prioritasnya kepada keluarga saat dibutuhkan.

Menurutnya, Lenovo menerapkan sistem kerja yang cukup fleksibel, sehingga memungkinkannya dan pekerja lain untuk mengalihkan prioritas kepada keluarga, dengan catatan hasil akhir yang ditargetkan tercapai.

Disinggung soal keinginannya beralih industri, Miranda mengaku memiliki rasa ingin tahu untuk industri lainnya. Hanya saja hingga saat ini, ibu satu putra ini mengaku, tawaran yang menghampirinya masih berkisar di industri teknologi. Namun, keinginannya merambah indutsri lain juga tidak akan diwujudkannya dalam waktu dekat, karena masih merasa Lenovo memiliki hal yang mampu menantangnya sebagai seorang marketer.

Salah satu tantangan yang disebutnya yaitu merek Lenovo VIBE yang dinilainya baru meningkat. Miranda menyebut, di tahun ketiganya bergabung di Lenovo, Ia masih ingin melihat hasil investasi yang turut Ia bangun bersama rekan lainnya. Sementara itu, rencana merek dan produk Motorola yang telah diakusisi Lenovo untuk memasuki Indonesia pun menjadi tantangan tersendiri yang justru Ia nantikan.

Menurut Miranda, sebagai marketer, kehadiran dua merek tersebut menarik, terutama dari segi cara menangani dua merek besar tersebut dalam satu perusahaan, dan hal yang akan dihadirkan keduanya untuk dapat saling bersaing tanpa mengganggu yang lainnya. Hal ini dan sejumlah tantangan lain turut menjadi alasannya untuk masih akan tetap bertahan di Lenovo hingga waktu yang belum ditentukan.

Selain itu, Miranda juga mengungkap masih ingin mengaplikasikan pengalaman yang diperolehnya dari pekerjaan sebelumnya sebagai marketing di LG Mobile dan Sony Mobile yang berganti nama menjadi Sony Xperia. Ia juga menyebut masih ingin mengembangkan kemampuannya dalam menghadirkan penawaran yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.

"Jadi tidak bisa bikin offer yang semata-mata keren, tapi tidak melihat dari kacamata konsumen. Pas pindah ke Lenovo, semua pengalamanku tergabung di sini. Ke depannya, aku juga mau lihat perkembangan Lenovo VIBE dan Lenovo Moto. Sesuatu yang besar yang aku nantikan."

Sementara itu, Miranda juga menyebut kondisi pertumbuhan Lenovo saat ini sangat pesat. Jika dulu Lenovo hanya memiliki divisi PC di Indonesia, kini sudah tersedia divisi smartphone yang juga bertumbuh sangat pesat. Saat ini, lanjut Miranda, distribusi Lenovo Mobile telah mencapai 23 kota di Indonesia, sementara brand awareness sudah mencapai 50 persen. Pangsa pasar Lenovo juga telah masuk ke dalam daftar lima besar.

Hal ini disebutnya sebagai pencapaian yang mengesankan, mengingat pasar smartphone di Indonesia yang terbilang unik. Pasar smartphone juga disebutnya memiliki tiga hal utama yaitu dinamis, pergeseran yang cepat, dan tidak terduga. Pergeseran yang cepat dan tidak terduga terlihat dari sejumlah pemain besar yang saat Ia baru bergabung di Lenovo, mengalami penurunan dan akhirnya lengser dari puncak kejayaannya.

"Market Indonesia itu agak unik ya. Pergantian handphone itu cepat banget. Orang itu ingin selalu yang terbaru. Ga punya uang pun ingin punya yang bagus. Dan kadang-kadang beli handphone itu bukan kebutuhan, tapi keinginan. Dan kalau mau bertahan di kompetisi, produsen memang harus sajikan yang terbaru."

Selain itu, Miranda juga menyebut, hingga saat ini pasar ritel masih menyumbang kontribusi terbesar untuk Lenovo. Meskipun demikian, Miranda mengaku, Lenovo tetap terfokus pada dua medium tersebut, karena kelebihan yang ditawarkan oleh masing-masing medium. Sementara itu, Lenovo akan memberikan hak memilih medium ternyaman untuk mendapatkan perangkat yang diinginkannya.

Disinggung soal VR, Miranda mengungkap, hingga kuartal depan, Lenovo masih akan tetap menawarkan dan terfokus pada perangkat berteknologi Virtual Reality (VR). Ia pun menyebut, setelah Idul Fitri, Lenovo telah mempersiapkan untuk meluncurkan satu perangkat berteknologi VR lainnya, namun masih belum mengetahui secara pasti total lineup VR yang akan disuguhkan Lenovo untuk tahun ini.


(MMI)

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie
Review Smartphone

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie

4 days Ago

Vivo V7 Plus kembali mengunggulkan kemampuan kamera depan, yang diklaim mampu memanjakan penggu…

BERITA LAINNYA
Video /