Wanda Hu

Pekerja Pria dan Wanita Punya Kesempatan yang Sama

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 02 Aug 2016 20:47 WIB
tech and life
Pekerja Pria dan Wanita Punya Kesempatan yang Sama
Wanda Hu saat ditemui di Sheraton, Kuta.

Metrotvnews.com, Jakarta: Menurut Equal Employment Opportunity Commission di AS, sebanyak 80 persen eksekutif dari perusahaan teknologi adalah seorang laki-laki, seperti yang disebutkan oleh Tech Crunch. Di bulan April lalu, Twitter memutuskan untuk memperpanjang cuti melahirkan yang bisa diambil oleh pegawainya. Ketika itu, disebutkan bahwa mereka ingin menambahkan jumlah karyawan wanitanya menjadi 35 persen.

Namun, masalah tentang sedikitnya wanita di dunia teknologi tidak hanya ada di dunia kerja, tapi juga di dunia pendidikan. Faktanya, menurut Ariane Hegeswich, seorang Director studi untuk Institute for Women's Policy Research, wanita biasanya memutuskan untuk tidak memasuki dunia sains sejak mereka masih muda.

Di bulan Mei, National Assessment of Educational Progress (NAEP) menunjukkan, dalam tes yang diberikan pada 21.500 murid, performa murid wanita lebih baik dari performa murid pria. Hal ini menunjukkan, alasan mengapa begitu sedikit wanita yang tertarik masuk ke dunia teknologi bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena faktor eksternal.

Biasanya, faktor eksternal tersebut adalah faktor lingkungan atau sosial. Stereotype negatif membuat ketertarikan wanita untuk mendalami dunia teknologi berkurang.

Vice President, Product Development & Head of Department, Armaggeddon, Wanda Hu merasa beruntung karena dia memiliki seorang ayah yang tidak membatasi mimpinya hanya karena dia seorang perempuan. "Dia tidak pernah memberitahu saya bahwa saya tidak bisa melakukan hal tertentu karena saya adalah seorang wanita," katanya. "Dengan begitu, dia membuat saya berpikir bahwa saya bisa melakukan apapun."

Pada awalnya, dia tidak menyadari bahwa perlakuan sang ayah bukanlah hal yang umum. Seiring dengan bertambahnya umur, baru dia sadar bahwa perlakuan orangtuanya ini adalah sesuatu yang tidak biasa. "Karena, biasanya, ada banyak ayah dan ibu yang memberitahu anak perempuan mereka bahwa mereka tidak bisa melakukan hal-hal tertentu," katanya.

Prinsip inilah yang lalu diterapkan untuk membangun budaya kerja Leapfrog, perusahaan yang menjadi bisnis keluarga. Sebagai perusahaan Leapfrog berusaha untuk mengakomodasi para pekerja wanita. Selain itu, mereka juga mendorong para karyawannya untuk menciptakan suasana kerja yang ramah keluarga.

Wanda bahkan berkata, para pegawainya diizinkan untuk membawa anak mereka ke kantor. "Memang tidak selalu, karena itu bisa mengganggu ritme kerja, tapi jika sesekali mereka perlu bantuan dengan anak mereka, kita bersedia membantu."



Meskipun begitu, industri teknologi lebih diidentikkan sebagai "dunia laki-laki". Saat ditanya apakah dia pernah mendapatkan diskriminasi hanya karena jenis kelaminnya, dia bercerita bahwa dia pernah menghadapi pelanggan Leapfrog yang meminta untuk berbicara dengan orang lain hanya karena dia seorang wanita.

"Dulu, saya merasa marah," Wanda bercerita. "Namun, seiring dengan bertambahnya umur, Anda menjadi sadar bahwa Anda tidak bisa mengubah dunia dalam satu malam." Mau tidak mau, dia harus menerima perlakuan tidak adil itu. Dia mengatakan, dia tidak keberatan untuk menomorduakan egonya jika itu demi kebaikan perusahaan.

"Jika saya harus membiarkan seorang laki-laki berbicara dengan seseorang yang meremehkan wanita, saya akan melakukan itu. Hal ini akan menguntungkan perusahaan, yang akan menguntungkan karyawan saya, yang merupakan hal paling penting untuk saya."

Wanda berharap, dia akan dapat membuat Armaggeddon menjadi perusahaan yang begitu besar sehingga dia tidak perlu lagi harus berurusan dengan orang-orang yang meremehkan wanita. Namun, dia percaya, jika seorang wanita ingin diperlakukan dengan adil, wanita juga harus dapat membuktikan diri bahwa dia dapat bekerja sama baiknya dengan orang lain.

Kunci untuk itu, menurut Wanda, adalah percaya pada diri sendiri. "Tentu saja, Anda harus percaya bahwa Anda memang bisa bekerja sebaik orang lain. Inilah bagian yang tersulit. Tapi, jika Anda tidak percaya pada diri Anda sendiri, tidak akan ada orang yang percaya akan kemampuan Anda."

Wanda percaya, keadilan gender layaknya jalan dua arah. Keadilan gender tidak melulu berarti memberikan hak khusus pada para wanita. Para perempuan juga harus mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang-orang di sekitarnya.



"Sebagai seorang perempuan, jika Anda membiarkan orang lain melakukan semuanya untuk Anda, itu justru akan membuat Anda lemah," kata Wanda. Sebagai perusahaan, Leapfrog berusaha untuk memberikan kesempatan yang sama, baik pada pekerja wanita maupun laki-laki.

"Jika seorang wanita ingin bisa naik pangkat dan mendapat jabatan penting, kenapa tidak?" kata Wanda. Dia menyebutkan, budaya seperti ini sudah menjadi DNA dari Leapfrog. Sejak dia pertama kali bekerja untuk perusahaan milik keluarganya ini, budaya seperti ini sudah terbangun.

Hal lain yang Wanda ingin tekankan pada karyawannya adalah kemampuan untuk melakukan banyak hal. Dia memisalkan, seorang yang bekerja di bidang sales tidak hanya fokus pada pekerjaannya untuk melakukan penjualan. Dia berkata, meskipun divisi sales telah berhasil mencapai target, tapi divisi warehouse menghadapi masalah dalam pengiriman barang, maka pekerja divisi sales juga harus membantu. Dia bahkan bersedia untuk ikut turun ke lapangan untuk membantu para pekerjanya.

Muncul pertanyaan, tidakkah hal ini membuat para pekerja Leapfrog merasa terbebani?

"Jika Anda membantu semua orang tapi tidak ada orang yang membantu Anda, tentu saja Anda akan merasa terbebani," kata Wanda. Namun, dia menyebutkan, jika Anda belajar untuk memberi dan menerima, maka hal itu menjadi tidak berat.

Dia bercerita, salah satu masalah yang dia hadapi dengan karyawannya yang relatif muda adalah kesulitan untuk meminta bantuan pada orang lain.

"Saya akan mengajarkan pada karyawan saya untuk membantu orang lain. Tapi, ketika mereka butuh bantuan, mereka tidak bilang apapun," kata Wanda. "Saya harus memberitahu mereka bahwa mereka harus belajar meminta tolong pada orang lain."


(MMI)

Xiaomi Mi 6, Kelas Premium di Harga Menengah
Review Smartphone

Xiaomi Mi 6, Kelas Premium di Harga Menengah

2 weeks Ago

Inilah ulasan lengkap tentang smartphone terbaru dari Xiaomi, Mi 6. 

BERITA LAINNYA
Video /