Komunitas IDKita, Berjuang Melindungi Anak dari Predator Seksual Online

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 22 Jun 2015 15:56 WIB
tech and life
Komunitas IDKita, Berjuang Melindungi Anak dari Predator Seksual Online
Tovanno Valentino di salah satu workshop yang dia lakukan.

Metrotvnews.com, Jakarta: Tak dapat dimungkiri, internet memang membuat hidup kita menjadi lebih mudah. Tidak hanya kita dapat mencari segala informasi dengan cepat (walau seberapa akurat informasi adalah hal yang masih harus dipertanyakan), kita juga dapat dengan mudah berkomunikasi dengan orang-orang yang berada jauh dari kita.

Batas antar-negara menjadi kabur, Anda dapat dengan mudah melakukan komunikasi - via chatting, voice call atau bahkan video call - dengan orang-orang asing yang berada di belahan bumi lainnya.
 
Tapi ternyata, tidak selamanya internet memberi dampak positif. Jika tak digunakan dengan bertanggung jawab, internet juga dapat memberi banyak dampak negatif, terutama pada anak, yang mungkin masih belum bisa membedakan apa yang baik untuk mereka dan apa yang dapat merusak hidup mereka.

Lalu bahaya apa sih yang dapat ditemui anak saat mereka asyik menjelajah internet? Anda pasti tahu, internet tidak selamanya memiliki konten yang positif. Tidak jarang, internet mengandung konten-konten yang tak pantas untuk dikonsumsi anak, sebut saja konten-konten seksual. Dan semua konten ini dapat diakses anak-anak dengan sangat mudah.
 
Pertanyaan berikutnya, siapa yang bertanggung jawab untuk memastikan anak-anak aman dari konten-konten yang tak layak untuk mereka konsumsi?

Tovanno Valentino, salah satu pendiri IDKita, sebuah komunitas yang mendedikasikan diri untuk melindungi anak dari "penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet", merasa bahwa semua pihak - orangtua, sekolah, pemerintah dan media - memiliki peran untuk memastikan anak-anak aman dari bahaya yang ada di internet.
 


Pemerintah dapat mengurangi konten-konten pornografi di internet dengan cara melakukan penutupan atau memblokir situs-situs berbau pornografi. Sayangnya, selama pembuat dari situs porno tersebut tak ditangkap, maka keberadaan situs-situs porno tersebut tidak akan ada habisnya, gugur satu tumbuh seribu. 

Dan sekalipun pemerintah dapat memblokir semua akses ke situs-situs porno tersebut, apakah hal itu berarti anak-anak sudah aman? Tidak juga. Karena ternyata, masih ada online sexual predator yang harus diwaspadai oleh para orangtua.

Valen, begitu panggilan akrab Valentino, membagi online sexual predator menjadi tiga kategori: online sexual predator yang mengincar siapa saja, tak peduli umur; groomer, orang-orang yang mengincar anak-anak di bawah 18 tahun; dan pedofil, yang mengincar anak-anak di bawah 13 tahun.

Salah satu perbedaan antara pedofil dan groomer adalah pedofil belum tentu menemui korban mereka dan melakukan kontak fisik, sementara groomer, karena mengincar anak yang sudah lebih matang, sudah hampir pasti melakukan kontak fisik.
 


Valen menceritakan bahwa sebagian besar groomer dan pedofil adalah orang-orang yang teredukasi. "Mereka cerdas, mereka tahu cara untuk mendekatkan diri dengan para calon korban," kata Valen. "Mereka dapat menjelma menjadi sosok seorang kakak atau bahkan teman sebaya sehingga sang anak merasa nyaman untuk berbicara dengan mereka."

Groomer atau pedofil tak segan-segan untuk menghadiahi sang calon korban dengan hadiah untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Dan setelah kepercayaan terbangun, sebuah hubungan terjalin - "pacaran online" begitu istilah Valen - maka sang groomer atau pedofil akan mulai meminta sang anak untuk mengirimkan foto-foto seksi.

"Eh, kalau kamu emang sayang sama aku, kirimin dong gambarmu yang seksi," kata Valen menirukan gaya bicara para pedofil dan groomer. "Berawal dari foto seksi, lama-lama sang pelaku lalu akan minta foto yang terbuka," kata Valen.
 
Ironisnya, terkadang orangtua tahu bahwa anak mereka menjalin hubungan secara online dan mendukung hubungan tersebut karena mereka tidak tahu bahwa orang yang menjadi pacara anaknya adalah seorang groomer atau pedofil.

Mereka dengan polosnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang pedofil atau groomer - yang biasa mengaku sebagai anak kuliah atau teman sebaya dari sang anak. "Karena itulah digital parenting menjadi penting," kata Valen.
 


Melalui komunitas IDKita, Valen berusaha untuk meningkatkan kesadaran orangtua untuk mengawasi penggunaan teknologi, terutama internet, oleh anak. Komunitas ini memiliki 200 sukarelawan yang merupakan para penulis atau blogger.

IDKita berjuang untuk menyadarkan orangtua akan pentingnya mengawasi anak saat mereka menggunakan internet melalui cara online maupun offline. Cara online yang mereka lakukan adalah dengan cara membuat tulisan-tulisan menyangkut digital parenting. Sementara secara offline yang dilakukan biasanya berupa seminar atau workshop.
 
Dalam acara workshop, Valen bahkan mengajarkan cara menggunakan aplikasi parental control dengan harapan para orangtua dapat memonitor kegiatan online sang anak dengan lebih efisien. Walau Valen mengakui salah satu kesulitan yang ditemuinya adalah rasa takut aplikasi parental control tersebut akan disalahgunakan.

"Karena itu, setiap kali saya akan membagikan aplikasi parental control, saya membuat para pendengar saya berjanji untuk hanya menggunakan aplikasi tersebut pada anak mereka sendiri. Karena kadang, aplikasi ini justru digunakan untuk memonitor kegiatan suami, padahal suami kan anak orang lain," cerita Valen.
 
Seolah tidak puas dengan berbagai kegiatan yang dia lakukan melalui komunitas IDKita, Valen bahkan membuka sesi konsultasi secara pribadi. Orang yang ingin berkonsultasi cukup menghubungi Valen melalui SMS, dan saat dia memiliki waktu senggang - biasanya pada jam 7 malam hingga jam 10 malam - Valen akan menelpon orang yang hendak berkonsultasi.
 
Valen bercerita bahwa sebagian besar orangtua yang anaknya menjadi korban pelecehan seksual online lebih memilih untuk diam dan tidak melaporkan kasus tersebut.

"Mereka lebih memilih untuk fokus pada rehabilitasi sang korban atau memastikan hal yang sama tidak terjadi pada adik-adik sang korban," kata Valen. 

Salah satu alasan orangtua enggan untuk mengadukan kasus pelecehan seksual online adalah rasa takut masalah tersebut akan dibesar-besarkan media. Valen mengaku kadang dia merasa jengkel pada awak media yang tetap menuliskan nama pelaku walau hal tersebut telah dilarang.
 
Selain pihak orangtua yang terkadang enggan untuk melaporkan kasus yang dialami anak-anak mereka, masalah lain yang Valen sering temui adalah pihak berwajib yang kurang koperatif.

"Kadang, kami merasa sakit hati karena melihat sang pelaku terbebas dari hukuman karena 'kurang bukti'," katanya menggebu-gebu. "Walau si anak sudah mengaku bahwa dia dilecehkan, tetapi jika tidak ada saksi, maka kasus tersebut akan dilepas. Ya kegiatan asusila masa iya disaksikan orang banyak!"
 
Meski begitu, Valen menolak untuk menyerah. Salah satu hal yang menguatkan tekadnya untuk terus memperjuangkan hal ini adalah karena dia sendiri memiliki seorang anak perempuan yang masih kecil. Dia merasa bahwa dengan melindungi anak-anak di Indonesia dari para sexual predator online, dia juga dapat melindungi anaknya.
 
Salah satu contoh kasus yang Valen berikan adalah kasus yang terjadi di tahun lalu di Surabaya. Sang pelaku bernama Tjandra Adi Gunawan. Dia adalah seorang dosen. Pekerjaan sampingannya adalah berpura-pura sebagai dokter dan mengumpulkan berbagai foto selfie telanjang dari anak-anak SD dan SMP lalu menyebarkannya melalui Facebook dan Kaskus.
 
Saat ditangkap pada bulan April tahun lalu, dia telah memiliki lebih dari 10.000 foto. Pada akhirnya, sang pelaku dijatuhi hukuman penjara selama 4 tahun. Meskipun begitu, Valen merasa tak puas dengan hukuman tersebut. Hukuman penjara masih dirasa terlalu ringan olehnya. "Seharusnya, pemerintah memberi hukuman yang memberi efek jera pada pelaku," kata Valen.
 
Valen berpendapat keras bukan tanpa alasan. Dia mengatakan bahwa trauma yang ditimbulkan pada seorang anak karena kekerasan seksual - dalam segala bentuk - dapat membekas hingga puluhan tahun.

"Untuk melakukan rehabilitasi, setidaknya diperlukan waktu 5 tahun," kata Valen, "Meskipun sang anak hanya mengirimkan foto telanjang dan tidak terjadi kontak fisik sama sekali."

Sementara itu, kunci untuk membantu rehabilitasi anak yang menjadi korban, menurut Valen, adalah untuk mengajak sang anak untuk beraktivitas.

"Dari sanalah, anak-anak lalu dapat kembali bangkit dan melanjutkan hidup," kata Valen.
 
Setelah mendengar cerita seperti ini, apakah Anda masih merasa bahwa internet tidak memiliki dampak yang berbahaya? Mungkin, sudah waktunya kita lebih mengawasi anak-anak di bawah umur saat mereka menggunakan internet. Mungkin, sudah waktunya isu digital parenting diangkat ke permukaan.


(ABE)

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie
Review Smartphone

Vivo V7+, Layar Luas Manjakan Pecinta Selfie

4 days Ago

Vivo V7 Plus kembali mengunggulkan kemampuan kamera depan, yang diklaim mampu memanjakan penggu…

BERITA LAINNYA
Video /