KoinWorks

Permudah Investasi Demi Layani Masyarakat

Lufthi Anggraeni    •    Jumat, 29 Sep 2017 17:35 WIB
startuptech and lifedigitalnkri
Permudah Investasi Demi Layani Masyarakat
?Co-founder Koinworks, Benedicto Haryono.

Metrotvnews.com, Jakarta: Maraknya kemunculan berbagai startup dengan tujuan menyelesaikan dan menyediakan berbagai solusi untuk permasalahan yang ada, terutama di Indonesia patut diapresiasi. Geliat startup yang bermunculan tidak hanya menyediakan solusi di satu industri, namun di berbagai industri.

Salah satu bidang dengan geliat kemunculan startup yang tergolong menarik terlihat pada sektor finansial, salah satunya di bidang peer-to-peer lending. Startup yang turut memeriahkan ranah tersebut adalah KoinWorks, menyasar usaha yang tidak terlayani oleh institusi perbankan besar.

KoinWorks merupakan usaha Fintech Lending yang diprakarsai oleh Benedicto Haryono, menyediakan investasi pada model Peer-to-Peer (P2P) Lending. Awal mula kehadiran KoinWorks diakui laki-laki yang akrab disapa Ben ini karena ingin mencoba peruntungannya dalam membangun usahanya sendiri.

Ketertarikannya dalam menciptakan dan mengembangkan suatu usaha diakui Ben merupakan salah satu karakteristik yang dia miliki. Pemilihan model P2P Lending juga dipilih Ben saat memutuskan untuk berkecimpung di usaha finansial berbasis teknologi tersebut, karena terdapat sejumlah peluang yang dinilainya sesuai dengan usaha jenis tersebut.



Laki-laki yang sebelumnya bekerja di perusahaan minyak kelapa sawit sebagai kepala divisi komersial tersebut memiliki kategori P2P Lending sebab dasar model tersebut yang tergolong sederhana, berkat absesnnya peraturan terkait dengan likuidasi, yang menjadi salah satu momok dalam peminjaman di institusi perbankan resmi.

Selain itu, kemunculan KoinWorks juga menjadi sarana untuk membantu lebih banyak usaha kecil dalam mendukung usaha mereka, melalui kemudahan mendapatkan pinjaman pendanaan. Ben menyebut perusahaannya sebagai social enterprise, sebab meski juga bertujuan untuk mendapatkan profit, KoinWorks menawarkan bantuan kepada pelaku bisnis di berbagai segmen industri, maupun pebisnis yang belum terjamah oleh bank.

"Kita ingin jadi social enterprise, tapi ga ingin jadi donation base. Karena menurut saya, itu tidak membangun tanggung jawab seseorang. Tapi dengan pinjaman, mereka ada tanggung jawab untuk mengembalikannya."

Disinggung soal tantangan dalam memperkenalkan KoinWorks, laki-laki yang saat ini juga menjabat sebagai dewan non direksi di dua perusahaan kecil tersebut mengaku menghadapi tidak sedikit tantangan. Ben menyebut, meski di luar Indonesia perusahaan dengan model P2P Lending tergolong bukan hal baru, namun berbeda dengan kondisi di Indonesia.

Salah satu tantangan yang dihadapi Ben dalam mendirikan KoinWorks terkait dengan underwriting atau penentuan risiko pinjaman akibat proses yang dilakukan secara online. Ben menyebut untuk wilayah Indonesia, riwayat kredit masih tergolong minim, berbeda dengan wilayah Amerika Serikat dan Eropa yang sudah lebih banyak.



Indonesia yang kala itu hanya memiliki riwayat Sistem Informasi Debitor (SID), dengan besaran 20 persen dari total populasi Indonesia, menjadi tantangan besar di awal kehadiran KoinWorks. Untungnya, Ben menemukan bahwa teknologi pembelajaran mesin makin marak digunakan untuk membuat model dan cara underwriting nasabah secara online dapat menjadi solusi permasalahan yang dihadapinya.

Selain itu, tantangan lain yang dihadapi Ben dalam pengembangan usahanya tersebut diakuinya juga terkait dengan sumber daya manusia. Menurutnya, mencari SDM yang memiliki kemampuan dengan visi sama tidaklah mudah. Permodalan dan membangun produk turut menjadi tantangan yang dihadapi di tahap awal KoinWorks.

Sementara itu, mengedukasi masyarakat terkait model P2P Lending juga diakui Ben bukan perkara mudah. Namun Ben berupaya mengenalkan model platform pinjaman tersebut dengan berbagai cara, salah satunya dengan merilis sejumlah video di media sosial, guna menjelaskan visi KoinWorks. Selain itu, KoinWorks juga rajin berbagi kisah sukses peminjaman, yang turut membantu pembentukan kepercayaan dengan investor baru.

Tranformasi digital yang terjadi di berbagai bidang di Indonesia dinilai Ben sebagai langkah yang baik, meski Ben menilai bidang perbankan masih sangat konservatif. Sebagian institusi masih dinilai menahan diri untuk bekerja sama dengan startup fintech, dan memilih untuk memiliki divisi serupa secara internal, meski sejumlah instansi dinilai Ben sudah mulai terbuka untuk bekerja sama dengan startup fintech.

"Ada juga melihat fintech sebagai ancaman malah, kompetitor. Padahal kembali lagi ke poin saya, kita justru membuat orang lama-lama bankable, dimana kita mendukung banking system."



Ben juga berharap, pandangan tersebut juga dimiliki pihak perbankan untuk dapat bekerja sama dan membangun Indonesia. Disinggung soal dukungan pemerintah, Ben menyebut hingga saat ini dukungan pemerintah sudah cukup baik, terlihat dari keterbukaan OJK dalam menaungi startup fintech serta menaruh harapan besar pada ranah tersebut.

Ben menilai dukungan pemerintah akan lebih baik jika dapat menfasilitasi standardisasi manajemen risiko di ranah fintech lending. Menurutnya, jika sudah terstandar, akan lebih banyak asuransi, bank maupun organisasi lain yang dapat bekerja sama dengan fintech lending, termasuk KoinWorks.

Pembatasan volume transaksi yang dinilai tidak mencukupi kegiatan fintech lending turut menjadi pekerjaan rumah lain yang dapat dibantu oleh pemerintah. Selain itu, Ben juga menilai masih terdapat perbedaan pemikiran antara OJK, BI, dan PPATK terkait dengan standar e-KYC (Know Your Costumer), juga menjadi hal yang perlu dibantu oleh pemerintah.

Ben juga berharap, pemerintah dapat menentukan dompet digital universal yang wajib digunakan dalam transaksi berbeda. Kehadiran dompet digital akan memudahkan konsumen terutama dengan perbedaan jarak jauh dan tidak memiliki akun bank.

Sebagai penutup, laki-laki yang lahir di bulan Maret dan gemar bermain game di waktu luangnya ini berharap, kehadiran KoinWorks dapat membantu lebih banyak masyarakat Indonesia dalam mengembangkan usahanya dan meningkatkan taraf hidup mereka.


(MMI)

Video /