Kreator BoBoiBoy

Yang Muda, Yang Kreatif, dan Yang Cinta Negeri

Riandanu Madi Utomo    •    Senin, 11 Apr 2016 11:02 WIB
tech and life
Yang Muda, Yang Kreatif, dan Yang Cinta Negeri
Kiri ke kanan: Ferdiawan Gunarto, Chintya Wu, Dzulkifly Ehsan, dan Usamah Widiatmoko. MI/SUMARYANTO

Merotvnews.com, Jakarta: Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik di negeri sendiri. Mungkin itulah peribahasa yang cocok untuk menggambarkan empat muda-mudi bangsa yang merupakan bagian dari tim pembuat serial animasi anak BoBoiBoy yang sangat terkenal di mancanegara, termasuk Indonesia.

Meski sangat mencintai pekerjaannya yang berbasis di Malaysia, keempatnya mengaku masih lebih betah berada di Indonesia.

Dzulkifly Ehsan, Chintya Wu, Ferdiawan Gunarto, dan Usamah Widiatmoko merupakan empat generasi muda Indonesia yang turut terlibat langsung dalam pembuatan serial film animasi BoBoiBoy. Keempatnya kini bekerja di studio animasi Animonsta di Malaysia.

Beberapa waktu lalu, keempatnya mengunjungi Indonesia untuk mempersiapkan penayangan film layar lebar BoBoiBoy yang akan tayang perdana di bioskop tanggal 13 April mendatang.

Lalu, bagaimana suka duka mereka di dunia animasi?

Chintya yang merupakan seorang compositor mengungkapkan, bekerja di industri animasi memang sulit, namun sangat menyenangkan. Pernyataannya didukung ketiga rekannya, terutama Dzulkifly yang sama-sama merupakan compositor untuk serial BoBoiBoy.

"Susah sih, tapi karena sudah suka jadi kebawa seneng aja," ujar Chintya saat diwawancara Metrotvnews.com.



Untuk Anda yang awam, compositor bertugas untuk menambahkan efek khusus di serial animasi BoBoiBoy. Efek khusus tersebut seperti cahaya, angin, petir, dan lain-lain.

Keduanya juga bertanggung jawab untuk segala tampilan efek dari kekuatan yang dimiliki BoBoiBoy. Saat ditanya bagian tersulit ketika membuat efek, keduanya sepakat bahwa membuat efek angin tornado adalah bagian yang paling sulit yang pernah mereka kerjakan.

"Soalnya kami enggak tahu gimana bentuk tornado yang sebenarnya, tapi kami ingin agar efek tornado terlihat nyata di film," ujar Dzulkifly. "Untuk itu, kami butuh banyak referensi. Jadi kami juga melihat banyak film lain, mulai dari animasi, hingga film-film box office."

Chintya menambahkan, tugas utama seorang compositor adalah untuk memberikan atmosfer pada film. Misalnya, ketika adegan sedih bagaimana agar membuat lingkungan sekitar terlihat mendukung adegan tersebut.

Contoh lainnya adalah membuat efek cuaca seperti hujan terlihat nyata, karena ternyata ada banyak faktor yang terlibat di dalamnya.



Berbeda dengan Chintya dan Dzulkifly, Ferdiawan merupakan seorang 3D animator untuk serial BoBoiBoy. Ferdiawan sejak awal bertanggung jawab untuk membuat animasi dari berbagai karakter di serial BoBoiBoy. Masih bingung dengan perannya? Ferdiawan menjelaskan bahwa seorang 3D animator memiliki peran layaknya sutradara untuk karakter animasi.

"Mirip dengan sutradara. Cuma bedanya 3D animator menyutradarai karakter animasinya, bukan manusia," ujar Ferdiawan. "Kasarnya saya punya boneka. Nah, boneka itu mau saya gimanakan nantinya. Di teknik animasi 3D, boneka itu sama seperti karakter dalam bentuk digital."

Bagi Ferdiawan, hal tersulit dalam pekerjaannya sebagai seorang 3D animator adalah menggambarkan animasi ekspresi karakter yang digarapnya. Membuat ekspresi karakter agar terlihat hidup layaknya manusia itu sangat sulit.

Ferdiawan bahkan sering bereksperimen dengan menyuruh rekan kerjanya melakukan adegan tertentu, lalu ia amati dan kemudian diaplikasikan ke karakternya.



"Biasanya saya 'ngerjain' orang kantor untuk meniru adegan yang sedang digarap. Misalnya, adegan minum. Saya amati benar bagaimana cara orang minum, kemudian saya aplikasikan di karakter 3D yang sedang digarap," ujar Ferdiawan.

Jika Chintya, Dzulkifly, dan Ferdiawan terjun langsung di dunia animasi, Usamah justru sama sekali tidak terlibat dalam soal penggarapan animasi di serial BoBoiBoy. Dia bekerja sebagai head of audio designer untuk serial BoBoiBoy.

Sesuai dengan namanya, tugas utama Usamah adalah merancang dan membuat berbagai efek suara agar atmosfer di berbagai adegan serial BoBoiBoy terlihat semakin hidup. Lucunya, Usamah merupakan lulusan ilmu ekonomi yang tak ada hubungannya sama sekali dengan audio.

"Saya memang sudah tertarik dengan audio sejak lama. Kebetulan saya juga memiliki beberapa portfolio musik yang saya buat sebelumnya," ujar Usamah. "Pas melamar di Animonsta, saya sertakan juga portfolio itu, dan kebetulan mereka tertarik."



Lebih mengejutkan lagi, Usamah ternyata juga berperan sebagai pengisi suara untuk karakter baru di film layar lebar BoBoiBoy. Meski tidak disebutkan nama dan rupa karakternya, Usamah mengaku sangat senang dengan perannya tersebut. Saat ditanya bagaimana ilmu ekonomi yang ia pelajari selama kuliah, Usamah hanya tersenyum dan menjawab bahwa ilmunya untuk pribadinya saja.

Baik Chintya, Dzulkifly, Ferdiawan, maupun Usamah, keempatnya merupakan anak bangsa dengan prestasi yang patut kita banggakan. Meski keempatnya kini sangat senang dengan pekerjaannya di negeri tetangga, ternyata mereka masih sangat cinta dengan negeri sendiri.

Keempatnya sepakat bahwa setelah memiliki pengalaman yang cukup, mereka akan pulang dan membangun industri kreatif di Indonesia. 

"Kami masih belum punya banyak pengalaman untuk sekarang. Kalau sudah waktunya, kami semua pengen banget kembali ke Indonesia dan memajukan industri animasinya," ujar Chintya dengan nada semangat.

Empat pemuda-pemudi ini telah membuktikan bahwa peribahasa "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik di negeri sendiri" bukan hanya sepenggal kalimat tanpa makna.


(MMI)

Video /