Habibie Afsyah: Keterbatasan Fisik Bukan Halangan untuk Berkarya

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 03 Apr 2015 10:40 WIB
tech and life
Habibie Afsyah: Keterbatasan Fisik Bukan Halangan untuk Berkarya
Habibie di

Metrotvnews.com: Keterbatasan fisik tak menghentikan langkah Habibie Afsyah untuk bergelut dalam bidang pemasaran oneline.

Habibie bercerita bahwa dia lulus SMA pada tahun 2006. Sadar bahwa dia tidak bisa menjadi seorang pegawai, di 2007, dia mulai mengikuti berbagai seminar mengenai pemasaran di dunia maya. Satu per satu kendala mulai tampak di depan mata; dari dana sampai kendala bahasa.

"Saat pertama kali, saya belajar dengan orang dari Singapura, meski saya tetap belajar di Indonesia," kata Habibie. "Awalnya, saya hanya coba-coba, karena saya kan susah untuk mencari kerja."

Saat ditanya bagaimana awalnya dia bisa tertarik untuk mencoba masuk ke dunia online marketing, Habibie menjelaskan bahwa sejak kecil, dia memang sudah tertarik dengan dunia gadget. "Sejak SMP, saya sudah sering ke warnet atau main PS," katanya.

Sebelum belajar menjadi seorang pemasar, Habibie menceritakan bahwa dia pernah mencoba belajar desain grafis secara intens selama 3 bulan. Hanya saja karena kendala yang sulit dihadapi, dia akhirnya memutuskan untuk tidak mengejar karir di bidang desain grafis.

"Desain grafis memerlukan dua tangan yang aktif, misalnya untuk menekan beberapa tombol secara bersamaan. Dan saya agak kesulitan dengan hal ini. Detail akurasi mouse juga sangat sulit buat saya," kata Habibie.

Habibie memulai karirnya sebagai affiliate dari Amazon di tahun 2007. Sayangnya, pada tahun 2008, terjadi krisis di Amerika Serikat, sehingga dia memutuskan untuk beralih ke bisnis online.

Saat ini, Habibie memiliki 3 toko online, walau dia mengatakan di antara 3 tersebut, hanya 1 toko yang menjadi fokusnya. Toko online paling lama miliknya adalah jualgpstracker.com. Seperti terlihat dari namanya, toko ini memang berfungsi sebagai tempat untuk menjual GPS tracker.

Habibie mulai membuka toko ini pada awal tahun 2013. Dia lalu melakukan sejumlah optimasi untuk menggenjot traffic. "Saat itu, penjualannya sangat bagus, tapi saat kelebihan optimasi, saya malah kena penalti dari Google," kata Habibie.

Pada bulan Oktober tahun lalu, Habibie lalu mencoba untuk membuat sebuah toko baru. Kali ini, dia banting setir dan justru menjual camilan khas Jawa Tengah. Dia mengaku ingin mencoba menggunakan ilmunya dalam bidang pemasaran dengan melakukan rebranding.

"Kami membeli snack dari Jawa Tengah, saat sampai di Jakarta, kami tiriskan lagi minyak yang ada, lalu kami kemas ulang," kata Habibie.

Untuk penjualan produk Mbah Sukun ini, Habibie mengaku meniru model yang digunakan Ma Icih. Dia merasa bahwa kunci keberhasilan Ma Icih bukanlah pada rasa, tetapi karena merek tersebut berhasil membuat para pembeli merasa terlibat.



Lalu, Habibie mulai membuat desain dari tokoh Mbah Sukun. “Persona Mbah Sukun adalah seorang ningrat yang sudah sangat tua, pakai blangkon dan baju Jawa, dia punya customer support yang disebut Abdi Dalem. Dia juga punya agen, yang dinamai Kuncen,” kata Habibie.



Tidak lama setelah membuat mbahsukun.com, Habibie lalu membuat toko baru, carihp.com. Situs ini merupakan tempat untuk menjual ponsel. Habibie bercerita, salah satu kesulitan yang pernah dia hadapi adalah rasa tidak percaya pelanggan.

Alasan Habibie untuk fokus pada situs ini adalah karena sukun, yang menjadi bahan dasar produk yang dia jual di mbahsukun.com, merupakan makanan musiman, sementara ponsel adalah bisnis yang dia rasa “tidak akan pernah mati”.



Selain ketiga toko tersebut, Habibie juga memiliki 2 blog. Satu blog membahas tentang dekorasi rumah dan satu blog lagi membahas mengenai model rambut.

"Kalau kita sedang perlu uang, kita bisa jual dengan cepat," kata Habibie. "Harga maksimal dari sebuah blog adalah 20 kali dari penghasilan tiap bulan. Jadi, misalnya, satu blog menghasilkan penghasilan sebesar USD100 (Rp 1,3 juta), maka blog tersebut bisa dijual seharga USD2,000 (Rp26 juta)."

Habibie mengatakan, sebagai seorang blogger, dia lebih mementingkan kata kunci ketimbang konten.

"Jadi, misalnya, sekarang sedang heboh mengenai rumah gothic, saya akan cari gambarnya, lalu kirim gambar tersebut ke penulis, lalu setelah penulis menuliskan artikel mengenai kata kunci tersebut, saya post ke blog," kata Habibie.

Untuk penulis konten blognya, Habibie lebih memilih untuk mencari penulis freelance daripada harus menggaji seorang pegawai. Saat ini, dia telah memiliki satu penulis konten langganan.

Seolah tidak puas dengan segala pencapaian yang telah dia dapatkan, Habibie mengaku, jika ada kesempatan, dia berniat membuat toko baru. Dia tertarik untuk membuka toko snack lagi. “Walau kali ini, mungkin saya harus mencari makanan yang tidak menggunakan bahan yang musiman,” katanya.


(ABE)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.