Tips & Trik

Mengenal Tiga Macam Sensor Sidik Jari di Ponsel

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 03 Jan 2019 16:21 WIB
tips dan trik teknologismartphone
Mengenal Tiga Macam Sensor Sidik Jari di Ponsel
Ada tiga jenis sensor sidik jari pada smartphone.

Jakarta: Pada awalnya, sensor sidik jari hanya ada di smartphone kelas premium. Sekarang, hampir semua smartphone dilengkapi dengan sensor sidik jari.

Sejak pertama kali sensor sidik jari muncul, teknologi juga sudah berubah. Kini, sensor sidik jari bisa mengenali sidik jari pengguna dengan lebih cepat dan lebih akurat. Inilah tiga tipe sensor sidik jari yang ada saat ini. 

 

Sensor Optik

Sensor sidik jari optik adalah tipe sensor paling pertama. Sesuai dengan namanya, sensor ini mengambil gambar dari sidik jari dan menggunakan algoritma untuk mendeteksi pola unik pada permukaan jari serta menganalisa bagian terang dan gelap dari gambar sidik jari. 

Sama seperti kamera smartphone, sensor sidik jari ini memiliki resolusi. Semakin besar resolusi sensor, semakin detail juga foto yang diambil, meningkatkan tingkat keamanan dari sensor itu. Namun, gambar yang diambil sensor ini memiliki kontras yang jauh lebih tinggi dari kamera.

Biasanya, sensor optik memiliki dioda dalam jumlah banyak pada setiap inci agar ia bisa mengambil foto dari sidik jari dengan detail. 



Ketika pengguna meletakkan jari di atas sensor, cahaya tidak akan masuk. Karena itu, sensor biasanya memanfaatkan sekumpulan LED sebagai sumber cahaya. Sayangnya, metode ini membuat sensor menjadi tebal, sehingga ia tidak bisa digunakan pada smartphone, seperti yang disebutkan oleh Android Authority

Satu kekurangan dari sensor optik adalah ia mudah dikelabui. Mengingat sensor ini hanya menangkap gambar 2D, ia dapat ditipu menggunakan prostetik atau gambar yang berkualitas. Karena sensor ini tidak dianggap cukup aman untuk melindungi data sensitif Anda, penggunaannya pun sudah mulai jarang. 

Pembuat smartphone dituntut untuk memberikan keamanan yang lebih baik. Karena itulah, semakin banyak perusahaan yang mengadopsi sensor kapasitif.

Meskipun begitu, tidak tertutup kemungkinan bahwa sensor optik akan kembali digunakan seiring dengan tren desain tanpa bezel. Sensor optik dengan ukuran yang lebih kecil kini bisa ditanamkan di bawah layar. 

 

Sensor Kapasitif

Tipe ini paling banyak digunakan sekarang. Jika sensor optik mengambil gambar dari sidik jari seseorang, sensor kapasitif menggunakan sekumpulan kapasitor kecil untuk mengumpulkan data sidik jari. 

Kapasitor bisa menyimpan daya, mengirimkannya ke lempeng pada sensor sehingga ia bisa digunakan untuk mengetahui detail sidik jari. Daya yang tersimpan di kapasitor akan sedikit berubah ketika lekuk pada sidik jari ada di atas sensor. Sementara itu, jika tidak ada lekuk jari, maka daya pada kapasitor tidak akan berubah.

Sirkuit integrator akan memerhatikan perubahan daya ini. Data tersebut kemudian akan dicatat oleh konverter analog-digital. 



Setelah data direkam, data digital ini bisa dianalisa untuk mengetahui keunikan sebuah sidik jari. Data yang telah disimpan akan dibandingkan dengan data sidik jari ketika Anda hendak membuka kunci ponsel.

Jika dibandingkan dengan sensor optik, sensor kapasitif jauh lebih sulit untuk dikelabui. Ia tidak bisa ditipu menggunakan gambar ataupun prostetik, mengingat material yang berbeda akan menghasilkan daya yang berbeda pula. Satu-satunya bahaya peretasan adalah ketika seseorang meretas hardware atau software dari sensor sidik jari. 

Mengingat ada banyak komponen di sirkuit deteksi, sensor kapasitif biasanya memiliki harga yang cukup mahal. 

 

Sensor Ultrasonik

Teknologi terbaru dari sensor sidik jari adalah sensor ultrasonik, yang pertama kali digunakan pada smartphone Le Max Pro. Qualcomm dengan teknologi Sense ID juga memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi ini. 

Untuk menangkap detail dari sidik jari pengguna, sensor terdiri dari transmitter dan receiver ultrasonik. Transmitter memancarkan sinyal ultrasonik pada jari yang diletakkan di atas sensor.

Tergantung pada lekukan dan pori-pori pada sidik jari, sebagian dari sinyal itu akan terserap sementara sebagian yang lain akan kembali ke sensor. 

Receiver sinyal akan "mendengarkan" sinyal itu dan mendeteksi tekanan untuk mengetahui detak ultrasonik pada semua titik. Waktu pindai yang lebih lama memungkinkan data sidik jari yang tertangkap menjadi lebih detail. Jika dibandingkan dengan sensor kapasitif, sensor ultrasonik lebih aman. 



Pada Tech Summit, Qualcomm memperkenalkan fitur sensor ultrasonik pada chipset terbarunya, Snapdragon 855. Kemungkinan, tipe sensor ini akan banyak digunakan pada smartphone premium tahun ini. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.